Lumajang, ListBerita | Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami erupsi pada Selasa, 7 Juli 2026, sekitar pukul 17.45 WIB.
Berdasarkan informasi resmi dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru, yang dirilis melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Letusan kali ini menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi, kurang lebih 700 meter di atas puncak gunung atau mencapai sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Abu vulkanik bergerak mengikuti arah angin menuju sektor utara, dan timur laut dari puncak Gunung Semeru.
Kondisi tersebut terus dipantau oleh petugas, guna mengantisipasi perubahan arah sebaran abu.
PVMBG juga melaporkan bahwa aktivitas erupsi terekam, pada alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter dan durasi letusan selama 129 detik.
Data tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik Semeru, masih berada pada tingkat yang perlu diwaspadai.
Dalam catatan PVMBG, erupsi yang terjadi pada Selasa sore tersebut menambah jumlah letusan Gunung Semeru menjadi sedikitnya 12 kali dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Frekuensi erupsi yang cukup tinggi, menjadi indikasi bahwa aktivitas gunung api masih berlangsung secara dinamis.
Kepala PVMBG melalui laporan resmi, yang dipublikasikan dalam aplikasi MAGMA Indonesia menyampaikan, bahwa masyarakat diimbau untuk tetap tenang.
Namun tidak mengabaikan setiap informasi resmi yang disampaikan, pemerintah maupun petugas pengamatan gunung api.
Masyarakat, pendaki, maupun wisatawan juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, terutama di sepanjang Besuk Kobokan.
Dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi, karena berpotensi menjadi jalur awan panas guguran dan aliran material vulkanik.
Selain itu, warga yang bermukim di sekitar daerah aliran sungai, yang berhulu di Gunung Semeru diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar.
Rerutama apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, di kawasan puncak maupun lereng gunung.
PVMBG menegaskan bahwa material vulkanik, yang terbawa aliran air hujan dapat menimbulkan bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin yang mampu mengancam permukiman maupun infrastruktur di wilayah hilir.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat erupsi yang terjadi pada Selasa petang tersebut.
Aktivitas masyarakat di luar kawasan rawan bencana, juga masih berlangsung normal dengan tetap memperhatikan perkembangan situasi.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, serta instansi terkait terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas vulkanik untuk memastikan keselamatan masyarakat.
Warga di sekitar lereng Gunung Semeru diimbau, untuk selalu menggunakan masker apabila terjadi hujan abu vulkanik.
Guna mengurangi risiko gangguan kesehatan, khususnya pada saluran pernapasan, serta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi abu semakin pekat.
PVMBG mengingatkan masyarakat, agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi.
Tang dikeluarkan oleh Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, PVMBG, Badan Geologi, maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Sebagai narasumber resmi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui laporan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru.
Yang dipublikasikan pada aplikasi MAGMA Indonesia, menyatakan bahwa aktivitas Gunung Semeru masih terus dipantau secara intensif dan masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama.


