Puluhan Ketua RT-RW Gelar Aksi Unjuk Rasa Minimnya Honor Mereka

Published on

Sleman, List Berita | Puluhan ketua RT dan RW dari Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, menggelar aksi unjuk rasa.

Sebagai bentuk kekecewaan terhadap dugaan kurangnya, keterbukaan dalam pengelolaan anggaran di tingkat kalurahan.

Aksi tersebut berlangsung beberapa hari lalu, dan memantik perhatian masyarakat sekitar.

Para pengurus RT/RW datang untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus tuntutan agar pemerintah kalurahan lebih transparan.

Dalam pengelolaan dana dan kebijakan yang menyangkut, kepentingan masyarakat.

Kekecewaan Pengurus RT-RW Menjadi Topik Lemahnya Pengawasan Pemerintah Daerah

Sejumlah peserta aksi mengaku kecewa karena selama bertahun-tahun mereka merasa kurang diperhatikan, terutama terkait honorarium yang diterima setiap tahunnya.

Salah seorang ketua RT yang enggan disebutkan namanya mengatakan, bahwa honor yang diterima para pengurus RT/RW dinilai sangat minim dan tidak sebanding dengan tugas serta tanggung jawab yang dijalankan.

BACA JUGA  Ular Sanca Sembunyi di Genting Warga, Petugas Damkar Evakuasi

“Honor kami hanya Rp500 ribu per tahun,” ujarnya kepada awak media.

Menurutnya, nominal tersebut sudah diterima selama bertahun-tahun tanpa adanya peningkatan yang signifikan.

Bahkan, ia mengaku sudah hampir lima tahun mengabdi sebagai pengurus RT namun honor yang diterima tetap sama.

<

Para ketua RT dan RW menilai kondisi tersebut sangat memprihatinkan jika, dibandingkan dengan daerah lain di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka mencontohkan, di beberapa wilayah Kota Yogyakarta, honor ketua RT disebut mencapai sekitar Rp250 ribu per bulan.

Sementara di Kalurahan Bangunkerto, honor yang diterima hanya Rp500 ribu dalam satu tahun penuh.

Perbedaan yang cukup jauh itu memunculkan, pertanyaan di kalangan pengurus RT/RW mengenai pengelolaan anggaran di tingkat kalurahan.

BACA JUGA  Geliat Wisata dan UMKM Sleman: Data Tumbuh, Ketua DPRD Beri Pandangan Berbeda

elain persoalan honorarium, peserta aksi juga menyoroti dugaan kurangnya transparansi dalam pengelolaan dana dan program pemerintahan desa.

Mereka berharap seluruh penggunaan anggaran, dapat dibuka secara jelas kepada masyarakat maupun pengurus wilayah.

“Kami hanya ingin pengelolaan anggaran dilakukan secara, transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi,” ungkap salah seorang peserta aksi.

Tidak hanya itu, para pengurus RT/RW juga menyinggung persoalan tunjangan hari raya atau THR yang dinilai tidak konsisten.

Mereka mengaku pernah menerima THR pada tahun-tahun sebelumnya, namun belakangan bantuan tersebut tidak lagi diberikan.

Kondisi itu semakin menambah kekecewaan para pengurus RT/RW yang selama ini aktif, membantu pelayanan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Menurut mereka, peran RT dan RW sangat penting karena menjadi ujung tombak pelayanan sosial dan administrasi di tingkat masyarakat.

BACA JUGA  Bangunkerto Butuh Sentuhan Tingkatkan Desa Agrowisata

Mulai dari pendataan warga, membantu kegiatan sosial, hingga menjaga kondusivitas lingkungan menjadi bagian dari tugas yang dijalankan setiap hari.

Namun demikian, mereka merasa keberadaan RT dan RW selama ini hanya dianggap sebagai pelengkap administratif semata.

“Peran kami seolah hanya simbol saja dan tidak benar-benar diperhatikan,” kata seorang ketua RW saat menyampaikan aspirasi.

Para peserta aksi juga meminta dugaan, penyelewengan anggaran yang mereka soroti dapat segera ditelusuri oleh pihak berwenang.

Mereka berharap ada pemeriksaan menyeluruh, agar tidak muncul kecurigaan maupun polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.

Selain itu, mereka juga meminta adanya evaluasi terhadap sistem pengelolaan anggaran dan kesejahteraan pengurus RT/RW di tingkat kalurahan.

Aksi tersebut berlangsung dengan tertib, dan damai di bawah pengawalan aparat setempat.

BACA JUGA  Mahasiswa Demo Kampus UPB Akibat Pecat Kaprodi

Para pengurus RT/RW berharap aspirasi, yang mereka sampaikan dapat segera mendapat perhatian dari pemerintah kalurahan maupun pihak terkait lainnya.

Mereka juga menegaskan bahwa aksi tersebut, dilakukan demi mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan desa yang lebih terbuka, adil, dan berpihak kepada masyarakat.

Latest articles

Heri Batara Lepas Video Musik “We Are Not Fall In”, Tegaskan Format Band di Jalur Rock

List Berita | Heri Batara resmi meluncurkan video musik untuk single terbarunya berjudul We...

Sakaratul Maut, Titik Keabadian Kehidupan Manusia

Sakaratul maut akan dialami setiap manusia Karya: Saidi Hartono Renungan, List Berita | Sakaratul maut...

DPRD Kota Bogor, Luncurkan Program Braille

Bogor, List Berita | DPRD Kota Bogor menerbitkan inovasi pengalihan Peraturan Daerah (Perda) ke...

Lovalia Rilis “Cukup”, Lagu Tentang Berdamai dengan Masa Lalu

ListBerita | Lovalia kembali merilis karya terbaru melalui single berjudul “Cukup” pada Februari 2026....

More like this