Hormuz Berbasis Yuan: Iran Goyang Hegemoni Dolar AS

Published on

List Berita | Keberadaan Selat Hormuz, berbasis Yuan sangat menguntungkan Timur Tengah.

Kali ini datang dari Iran, yang memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Hormuz, sebagai alat tekanan geopolitik sekaligus ekonomi.

Pakar energi global, Mamdouh G. Salameh, menyebut bahwa kendali de facto Iran atas jalur vital tersebut, memberi kekuatan besar dalam menghadapi kebijakan “tekanan maksimum” Washington.

Bahkan, menurutnya, strategi Amerika Serikat terhadap Iran sejatinya telah kehilangan efektivitas jauh sebelum dinamika terbaru ini terjadi.

Keberadaan Yuan Menguntungkan China Dolar AS Tersingkir

Salah satu perubahan signifikan, terlihat pada sistem tarif dan transaksi di kawasan Hormuz. Ujar Salameh kepada Jurnalis Sputnik, Rabu, (8/4/2026).

Iran mulai membuka ruang penggunaan yuan China, serta stablecoin dalam perdagangan energi.

Langkah ini dinilai sebagai pukulan langsung terhadap dominasi, sistem petrodolar yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi global berbasis dolar.

BACA JUGA  Nikmati di Udara Paralayang Kesenggol Pesawat Terjerembab Jatuh

Di tengah tekanan sanksi, Iran justru mampu menjaga stabilitas ekspor minyaknya. Volume ekspor tercatat berada di kisaran 1,5 hingga 1,7 juta barel per hari, dengan sekitar 90 persen mengalir ke China.

Menariknya, sebagian besar transaksi dilakukan menggunakan yuan atau melalui mekanisme barter, yang kemudian dapat dikonversi menjadi emas melalui Shanghai Gold Exchange.

<

Strategi ini sejalan dengan arah baru negara-negara BRICS, yang mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.

Bahkan, dalam beberapa kasus, sekitar 90 persen transaksi antara China, Rusia, dan India kini tidak lagi bergantung pada dolar AS.

Di sisi lain, tekanan dari Amerika Serikat terhadap Iran disebut-sebut turut menyasar sektor teknologi informasi dan infrastruktur energi.

Tujuannya jelas: menghambat ekspor minyak Iran, terutama ke pasar China, sekaligus mengganggu sistem pembayaran alternatif yang sedang berkembang.

Namun, pendekatan ini dinilai berisiko tinggi. Intervensi terhadap infrastruktur energi Iran berpotensi memicu eskalasi di kawasan Teluk, memperketat pasokan global, dan mendorong lonjakan harga minyak dunia secara drastis.

BACA JUGA  Iran Bantah Tudingan Pentangon AS, Peristiwa Serangan Kapal Tanker

Dalam skenario tertentu, harga minyak mentah Brent bahkan bisa melonjak tajam hingga dua hingga tiga kali lipat dari kisaran saat ini.

Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada pasar global, tetapi juga berpotensi menjadi bumerang bagi Amerika Serikat sendiri.

“Pada akhirnya, pihak yang paling dirugikan justru adalah Amerika Serikat,” tegas Salameh.

Latest articles

Pariwisata Yogyakarta Jadi Sorotan Bamboo Spirit Nusantara, Destinasi Perlu Diperkuat

Penulis: Jurnalis Kairos-Kairozo Saidi Hartono. Yogyakarta, List Berita | Capaian sektor parawisata di Daerah Istimewa...

1000 Pawiyatan, SALAM NUSANTARA: Penghayatan Menuju Roso Orep Sejati

MALANG–PASURUAN, List Berita | Mengejawantahkan Salam Nusantara, dalam pertemuan tiga perjalanan penghayatan kebudayaan. "Yang...

Penadna “Pena Daya dan Data Nusantara”

Jawa Timur, List Berita | Ahli sejarah sekaligus tokoh budaya Guntur Bisowarno pencetus, kalimat...

Kembang Setaman Nusantara: Merajut Memori, Kesaksian Sejarah dan Peradaban

List Berita | Dari Kembang Kanthil, Kenanga hingga Melati. Sebuah Tafsir Simbolik tentang Pena...

More like this