Opini Publik: Takabur di Tengah Kehidupan: Ketika Kesombongan Menjadi Penyakit Hati Oleh : Saidi Hartono
List Berita | Di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak, ada satu penyakit hati yang sering hadir tanpa disadari: takabur, atau kesombongan.
Ia tidak terlihat secara fisik, namun dampaknya mampu merusak hubungan antar sesama, bahkan menjauhkan manusia dari nilai-nilai keimanan.
Dalam ajaran Islam, takabur atau kesombongan bukanlah perkara ringan. Ia adalah sifat yang pernah menjerumuskan makhluk mulia seperti iblis ke dalam kehinaan.
Ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, iblis menolak dengan penuh keangkuhan, merasa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api.
Fenomena ini kini tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit manusia yang tanpa sadar menunjukkan sikap serupa-merasa lebih tinggi, lebih benar, dan lebih layak dibanding orang lain.
Kesombongan tampak dalam berbagai bentuk. Mulai dari enggan menyapa terlebih dahulu, merasa harus dihormati lebih dulu, hingga meremehkan orang lain di hadapan umum.
Bahkan, penampilan dan status sosial sering dijadikan ukuran untuk menilai derajat seseorang.
Padahal dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta, jabatan, atau rupa, melainkan dari ketakwaannya.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Namun realitanya, masih banyak yang terjebak dalam ilusi dunia. Mereka enggan bergaul dengan yang dianggap “lebih rendah”, dan hanya ingin berada di lingkaran yang menguntungkan citra diri.
Lebih memprihatinkan, sikap ini terkadang dianggap hal biasa, bahkan menjadi budaya terselubung di tengah masyarakat—baik di kampung maupun di kota besar.
Seorang tokoh agama setempat menyampaikan, bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang sangat halus, namun berbahaya.
“Takabur itu bisa masuk tanpa kita sadari. Ia tumbuh dari rasa lebih, merasa paling benar, hingga sulit menerima nasihat.
Jika dibiarkan, hati akan mengeras dan jauh dari petunjuk Allah,” ujarnya.
Rasulullah SAW pun telah memberikan peringatan keras terkait hal ini.
Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa seseorang yang memiliki kesombongan walau hanya sebesar biji sawi tidak akan masuk surga.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kesombongan, sekecil apapun tetap memiliki konsekuensi besar di sisi Allah SWT.
Kesombongan juga menjadi penghalang, dalam menjalin ukhuwah (persaudaraan).
Ketika seseorang merasa lebih tinggi, maka ia akan sulit untuk menghargai, sulit untuk meminta maaf, dan sulit untuk menerima kekurangan orang lain.
Akibatnya, hubungan sosial menjadi renggang, empati memudar, dan rasa persaudaraan perlahan hilang.
Di tengah kondisi ini, umat Islam diajak untuk kembali menanamkan sifat tawadhu (rendah hati).
Sadar bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan, dan setiap manusia memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menempatkan diri dengan penuh kesadaran bahwa semua manusia sama di hadapan Allah.
Sebagaimana pepatah yang selaras dengan nilai Islam: semakin berisi, semakin merunduk.
Redaksi menegaskan, bahwa kesombongan bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga persoalan iman. Ia adalah ujian hati yang harus terus dijaga.
Dengan memperkuat keimanan, memperbanyak introspeksi diri, serta membiasakan sikap rendah hati.
Diharapkan masyarakat dapat terhindar dari penyakit takabur yang merusak, dan kembali pada nilai-nilai kebaikan yang diridhai Allah SWT.


