BEIJING, List Berita | Dinamika hubungan tiga arah antara Amerika Serikat, China, dan Taiwan kembali memanas menjelang rencana pertemuan puncak antara Donald Trump dan Xi Jinping.
Di tengah situasi tersebut, langkah politik mengejutkan datang dari Ketua Kuomintang (KMT), Cheng Li-wun, yang dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke China pada 7ā12 April.
Kunjungan ini menjadi sorotan karena Cheng, merupakan ketua partai aktif pertama dari KMT dalam satu dekade terakhir yang melakukan perjalanan ke daratan China.
Langkah Sarat Sinyal Politik
Sejumlah analis menilai kunjungan, ini bukan sekadar agenda diplomatik biasa, melainkan sarat pesan strategis.
Cheng disebut berupaya memainkan keseimbangan komunikasi, terhadap tiga pihak sekaligus: Beijing, Washington, dan publik Taiwan.
Dalam pernyataannya, Cheng menegaskan komitmennya terhadap āKonsensus 1992ā, yakni kesepahaman bahwa kedua pihak mengakui prinsip āSatu Chinaā dengan interpretasi masing-masing.
Ia juga menekankan bahwa konflik di Selat Taiwan bukan sesuatu yang tak terelakkan.
Timing yang Sangat Krusial
Momentum kunjungan ini dinilai sangat sensitif karena, terjadi menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada Mei mendatang.
Di saat yang sama, perdebatan di Taiwan terkait peningkatan anggaran pertahanan juga sedang memanas.
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, sebelumnya mengusulkan anggaran pertahanan senilai US$40 miliar untuk memperkuat kemampuan militer, termasuk pembelian alutsista dari AS.
Namun, rencana tersebut masih tertahan di parlemen yang dikuasai oposisi, termasuk KMT.
Pesan Terselubung Beijing ke Washington
Pengamat politik menilai Beijing bisa saja memanfaatkan pertemuan, dengan Cheng sebagai alat komunikasi tidak langsung kepada Washington.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa, China memiliki jalur pengaruh di dalam politik domestik Taiwan, khususnya melalui KMT.
Dengan kata lain, Beijing ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki leverage dalam menentukan arah kebijakan Taiwan, termasuk dalam isu pertahanan.
Strategi āSaluran Oposisiā
Selain simbol diplomasi, kunjungan ini juga mencerminkan strategi Beijing dalam membangun jalur komunikasi alternatif di luar pemerintahan resmi Taiwan yang saat ini dipimpin oleh Partai Progresif Demokratik (DPP).
Dengan menerima Cheng di level tinggi, Beijing berupaya menegaskan bahwa hubungan lintas selat bisa lebih stabil jika Taipei bersedia mengikuti kerangka yang diinginkan China.
Namun, para analis mengingatkan bahwa setiap bentuk āinsentifā dari Beijing, baik ekonomi maupun keamanan, bersifat fleksibel dan dapat ditarik sewaktu-waktu.
Ujian Politik bagi KMT dan Taiwan
Kunjungan ini juga menjadi ujian besar bagi Cheng sendiri: apakah langkah tersebut akan memperkuat posisi KMT di dalam negeri, atau justru menimbulkan resistensi publik.
Lebih luas lagi, perkembangan ini memperlihatkan bahwa persaingan geopolitik di kawasan tidak hanya berlangsung di tingkat negara, tetapi juga merambah ke dinamika politik domestik Taiwan.


