Kabupaten Sleman kerap disebut menunjukkan tren positif, dalam sektor pariwisata dan pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Namun, di balik data yang mencatat angka pertumbuhan, kondisi di lapangan justru menunjukkan realitas yang berbeda.
Seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Turi dan Tempel. Sejumlah destinasi wisata di kawasan tersebut dilaporkan telah tutup.
Sementara sebagian lainnya-terutama berbasis agro wisata desa-mengalami penurunan jumlah pengunjung secara signifikan.
Bahkan, tingkat kunjungan disebut bisa dihitung dengan jari. Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku UMKM di sekitar lokasi wisata.
Banyak usaha kecil di tingkat desa mengalami penurunan omzet, hingga terpaksa gulung tikar.
Fenomena “sepi merayap” menjadi gambaran nyata yang dirasakan, pelaku usaha di Kecamatan Turi hingga Tempel.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai peran Pemerintah Kabupaten Sleman, dalam merespons kondisi tersebut.
Dukungan konkret dinilai sangat dibutuhkan, baik dalam bentuk promosi wisata yang lebih efektif, penguatan ekosistem UMKM.
Hingga kemudahan akses bagi investor dan pegiat, usaha untuk kembali menghidupkan sektor ini.
Kehadiran pemerintah daerah menjadi krusial, tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu menjembatani kebutuhan pelaku usaha dan potensi daerah.
Tanpa intervensi yang tepat, dikhawatirkan geliat wisata dan UMKM di wilayah tersebut akan semakin meredup.
Berbanding terbalik dengan data pertumbuhan yang, selama ini disampaikan 40-60%.
Ketua DPRD Kabupaten Sleman Y. Gustan Ganda kepada Redaksi Satu, menyampaikan dalam percakapan via WhatsApp Pada Kamis, (19/3/2026).
Dalam pemaparannya Ketua DPRD Sleman Y Gustan Ganda via WhatsApp, ia menyampaikan terkait wisata ke Sleman.
WISATAWAN ke SLEMAN
Pada saat libur Nataru, kunjungan wisatawan ke Sleman melebihi proyeksi Dinas Pariwisata.
Penginapan di Sleman yang diproyeksikan 40 % – 60 %, data yang disampaikan Dinas Pariwisata penginapan 75 %. Tentunya ini potensi yang luar biasa.
Tetapi data yang diberikan Dinas Pariwisata dari banyaknya wisatawan, yang menginap di Sleman tidak seiring belanja oleh – oleh di Sleman.
Nah ini menjadi tantangan Pemerintah Kabupaten Sleman.
Bagaimana wisatawan yang datang dan atau menginap di Sleman tertarik dan akhirnya berbelanja oleh – oleh di Sleman.
Bagaiamana oleh – oleh di Sleman menjadi daya tarik dan akhirnya dibeli oleh wisatawan.
Pemerintah Kabupaten Sleman harus punya terobosan yang luar biasa. Ini tidak bisa hanya normatif, harus ada terobosan dari Pemerintah.
Pemerintah harus bertanggung jawab, membuat terobosan yang luar biasa.
Bahkan Pemerintah perlu menggandeng pihak yang berkompeten di bidangnya, agar mampu membuat solusi nyata.
Solusi agar oleh – oleh di Sleman menjadi daya tarik
Saya mempunyai keyakinan, wisatawan tidak melulu mencari harga yang murah. Tetapi wisatawan ini tentunya ini pengen punya pengalaman yang menyenangkan.
Termasuk ketika membeli oleh -oleh ini para wisatawan punya pengalaman, yang menyenangkan tentang rasa yang memang nikmat dan menarik.
Pemerintah Kabupaten wajib punya inovasi. Di era perkembangan zaman, kompetisi makin ketat dan berkualitas.
Untuk itu Pemerintah Kabupaten Sleman wajib meningkatkan, kompetensi agar mampu mempunyai kekuatan daya saing dalam mengembangkan umkm.
UMKM wajib dibina agar buka sekedar jargon naik kelas. Tetapi bagaimana umkm benar- benar naik kelas.
Sehingga barang dan jasa yang dijual mempunyai nilai jual, yang menjadi pilihan wisatawan.
Disinilah perlunya Pemerintah hadir secara nyata, mewujudkan umkm naik kelas hingga akhirnya wisatawan menikmati barang dari umkm.
Wisatawan puas karena kualitas, inovasi produk dan kreativitas penjual memang layak untuk dinikmati wisatawan.
Dan tentunya oleh – oleh yang dibeli mampu memberikan pengalaman yang membekas di hati, karena produk yang dijual memang bekualitas dan menarik hati wisatawan, tutup Gustan disampaikan pada Redaksi Satu.


