Nusantara Subyek, Bukan Benda Peradaban
Jurnalis Kairos-Kairozo Saidi Hartono: Sejarah Nusantara Perlu Dibaca dari Perspektif Peradaban
PASURUAN, List Berita – Nusantara bukan sekadar ruang geografis, bukan pula benda mati yang hanya menjadi objek untuk dibaca oleh peradaban lain.
Nusantara adalah subyek yang memiliki perjalanan pengetahuan, kebudayaan, nilai kehidupan, serta pengalaman peradaban yang panjang.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pemantik penting dalam pembacaan kembali sejarah dan kebudayaan Nusantara yang disampaikan Jurnalis Kairos-Kairozo, Saidi Hartono, pada Rabu, 2 September 2026.
Dalam pembahasan tersebut, Saidi Hartono mengangkat pandangan Ki Tohari dari Pasuruan, Jawa Timur, yang memandang kebudayaan Jawa dan Nusantara bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan pengetahuan yang masih memiliki makna bagi kehidupan manusia hari ini.
Ki Tohari merupakan sosok yang memiliki kecintaan mendalam terhadap budaya Jawa dan peradaban Nusantara. Sebagai putra daerah, ia melihat tanah kelahirannya bukan hanya sebagai tempat hidup, tetapi sebagai bagian dari ruang peradaban yang menyimpan pengetahuan leluhur.
Dari pemikiran itulah muncul sebuah ikrar besar: “Nusantara sebagai Subyek Peradaban Indonesia dan Bangsa-Bangsa di Seluruh Dunia.” Ikrar tersebut menjadi pertanyaan sekaligus tantangan.
Jika Nusantara ditempatkan sebagai subyek peradaban, maka siapa sosok yang mampu menjadi “bayangan subyek” untuk menerangkan peradaban dirinya, keluarganya, masyarakatnya, hingga hubungan semuanya dengan peradaban Nusantara secara komprehensif dan holistik?
Pertanyaan itu membawa pembahasan menuju wilayah yang lebih dalam. Peradaban tidak cukup hanya dilihat dari bangunan, benda peninggalan, prasasti, kerajaan, atau artefak.
Peradaban juga berada dalam cara manusia berpikir, merasakan, bertindak, menjaga alam, membangun hubungan sosial, menjalankan etika, serta memahami kehidupan.
Dalam konteks itulah kisah Mahabharata menjadi salah satu pintu masuk pembacaan peradaban Nusantara.
Tokoh Krishna, Arjuna, Bima, Yudistira dan Drupadi menjadi bagian dari pembahasan karena kisah mereka telah hidup sangat kuat dalam tradisi kebudayaan Jawa dan Nusantara.
Namun, pembacaan terhadap Mahabharata tidak berhenti pada pertanyaan mengenai asal-usul cerita. Yang lebih penting adalah bagaimana kisah tersebut diterima, diolah, dimaknai, dan kemudian menjadi bagian dari sistem pengetahuan masyarakat Nusantara.
Di tanah Jawa, Mahabharata mengalami proses kebudayaan yang sangat panjang. Cerita tersebut hadir melalui wayang, sastra, tradisi tutur, seni pertunjukan, pendidikan moral, simbol kehidupan, hingga berbagai tafsir filosofis.
Karena itu, Nusantara tidak dapat ditempatkan semata-mata sebagai penerima pasif sebuah kebudayaan.
Masyarakat Nusantara memiliki kemampuan untuk mengolah pengetahuan yang datang, kemudian memberinya bentuk, bahasa, simbol, dan makna sesuai dengan pengalaman kehidupannya sendiri.
Wayang menjadi salah satu bukti kuat mengenai proses kreatif tersebut.
Dalam tradisi pewayangan Jawa, muncul tokoh-tokoh Punakawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng yang memiliki posisi penting dalam menyampaikan kritik sosial, etika, moral, kebijaksanaan, bahkan cara pandang terhadap kehidupan.
Ki Tohari kemudian membawa pembahasan tersebut lebih jauh melalui gagasan mengenai “alat pembaca, pemakna dan penelaahan” terhadap konsep 1000 Pawiyatan.
Menurut pemikiran tersebut, Pawiyatan tidak hanya dipahami sebagai tempat belajar formal, tetapi sebagai ruang kehidupan untuk membaca, mengalami, memaknai, dan mengembangkan pengetahuan.
Konsep 1000 Pawiyatan kemudian diposisikan sebagai sebuah gagasan mengenai sistem hidup, penghidupan, dan kehidupan yang lebih luas.
Di dalamnya terdapat pertanyaan tentang bagaimana manusia membangun mindset, pola pikir, etika, moral, ilmu pengetahuan, serta spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan tersebut bahkan menyentuh keberadaan Punakawan sebagai sebuah sistem simbolik yang memiliki pesan kehidupan. Semar, Bagong, Petruk dan Gareng tidak hanya hadir sebagai tokoh penghibur dalam pertunjukan wayang.
Dalam perspektif Ki Tohari, mereka dapat dibaca sebagai bagian dari perangkat kebudayaan yang menyampaikan pesan tentang manusia, kehidupan, etika, moral, dan cara menghadapi realitas.
Dalam konteks Gagrak Jawa Timuran, pembacaan tersebut semakin menarik ketika dikaitkan dengan sosok almarhum Ki Dalang Sulaiman.
Menurut pemikiran yang disampaikan Ki Tohari, Ki Dalang Sulaiman pernah mengembangkan pakem baru dalam tradisi pewayangan Jawa Timur pada abad ke-20 melalui kehadiran tokoh Besud sebagai anak Bagong.
ama Besud kemudian dibaca melalui ungkapan “kebeg maksud”, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang penuh dengan maksud, pesan, dan kandungan makna.
Dengan demikian, kehadiran Besud tidak sekadar menambah tokoh dalam dunia pewayangan.
Ia menjadi bagian dari cara membaca realitas kehidupan melalui bahasa simbol, karakter, dan pesan kebudayaan.
Gagasan tersebut kemudian dikaitkan Ki Tohari dengan ruang peradaban Nusantara, khususnya Gagrak Jawa Timuran di wilayah Purwosari, Pasuruan, lereng Gunung Arjuno, Jawa Timur.
Di wilayah inilah tradisi, alam, masyarakat, kesenian, dan pengetahuan leluhur bertemu dalam satu ruang kehidupan.
Bagi Ki Tohari, membaca peradaban berarti membaca keseluruhan sistem tersebut, bukan mengambil satu bagian kemudian memisahkannya dari konteks kehidupan masyarakat.
Karena itu, peradaban Nusantara tidak cukup diterangkan hanya melalui benda-benda peninggalan.
Benda memang penting karena menjadi bukti material sejarah. Namun, di balik benda terdapat manusia yang menciptakan, menggunakan, merawat, memberi makna, dan mewariskan pengetahuan.
Manusia dan pengetahuannya itulah yang menjadikan sebuah benda memiliki arti peradaban. Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan bahwa Nusantara harus mulai ditempatkan sebagai subyek peradaban, bukan sekadar objek yang terus-menerus didefinisikan oleh sudut pandang luar.
Pendiri Bamboo Spirit Nusantara, Ki Guntur Bisowarno, turut menyaksikan dan menyampaikan pandangan dalam ruang pembahasan tersebut.
Kehadiran Guntur Bisowarno memperkuat gagasan bahwa pengetahuan peradaban Nusantara perlu dikembangkan sebagai ruang dialog antara kebudayaan, lingkungan, sejarah, pengetahuan leluhur, dan kehidupan manusia.
Bamboo Spirit Nusantara membawa perhatian pada hubungan manusia dengan alam. Dalam perspektif tersebut, alam bukan sekadar sumber daya, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang harus dibaca bersama dengan kebudayaan.
Manusia, alam, budaya dan pengetahuan kemudian membentuk sebuah kesatuan yang tidak mudah dipisahkan.
Dari sinilah gagasan tentang peradaban menjadi lebih luas daripada sekadar sejarah kerajaan.
Peradaban dapat dibaca melalui cara masyarakat menjaga sumber air, menanam pohon, mengelola pangan, membangun komunitas, mengembangkan seni, mendidik generasi, serta menjaga hubungan manusia dengan lingkungan.
Saidi Hartono menilai bahwa pembacaan semacam ini penting agar sejarah Nusantara tidak berhenti pada romantisme masa lalu.
Sejarah harus mampu menjadi sumber pertanyaan bagi masa kini dan sumber pengetahuan bagi masa depan.
Karena itu, pembahasan mengenai Mahabharata pun sebaiknya tidak diarahkan menjadi pertentangan sederhana antara Nusantara dan India.
India memiliki tradisi Mahabharata yang sangat kuat, sementara Nusantara memiliki sejarah panjang dalam mengolah kisah tersebut menjadi bagian dari kebudayaannya sendiri.
Yang perlu dikaji adalah bagaimana hubungan, pertukaran, transformasi, dan pemaknaan antarkebudayaan itu berlangsung.
Dengan pendekatan tersebut, perdebatan mengenai asal-usul tidak harus menjadi pertentangan, tetapi dapat menjadi pintu masuk menuju penelitian yang lebih mendalam.
Sejarah, arkeologi, filologi, antropologi, linguistik, sastra, seni pertunjukan, dan pengetahuan masyarakat dapat dipertemukan untuk membaca jejak tersebut secara lebih komprehensif.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya dari mana sebuah cerita berasal.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang dilakukan sebuah peradaban terhadap cerita tersebut setelah menerimanya.
Nusantara telah menunjukkan kemampuan mengolah cerita menjadi pengetahuan, mengubah tokoh menjadi simbol, mengembangkan pertunjukan menjadi pendidikan, dan menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Inilah yang menjadikan Nusantara menarik untuk dibaca sebagai subyek peradaban.
Dari lereng Gunung Arjuno, Purwosari, Pasuruan, gagasan Ki Tohari kemudian menemukan ruang refleksi yang lebih luas: bahwa warisan leluhur tidak boleh hanya dipandang sebagai benda masa lalu, tetapi sebagai pengetahuan hidup yang masih dapat dibaca dan dimaknai.
Ikrar ketulusan tersebut menjadi pemantik untuk terus bertanya: siapakah manusia Nusantara hari ini yang mampu menerangkan peradabannya sendiri secara utuh, menyeluruh, dan bertanggung jawab?
Pertanyaan itu sekaligus menjadi tantangan bagi generasi sekarang.
Sebab, jika Nusantara benar-benar ingin ditempatkan sebagai subyek peradaban, maka masyarakatnya harus mampu mengenali dirinya sendiri, membaca sejarahnya, memahami kebudayaannya, merawat alamnya, serta mengembangkan pengetahuannya.
Dengan demikian, Nusantara bukan benda peradaban. Nusantara adalah subyek peradaban.
Subyek yang memiliki ingatan, pengalaman, pengetahuan, kebudayaan, alam, manusia, dan masa depan.
Dan tugas generasi hari ini adalah memastikan seluruh kekayaan tersebut tidak hanya menjadi cerita yang dikenang, tetapi menjadi pengetahuan yang hidup untuk membangun peradaban Indonesia dan memberi kontribusi bagi peradaban bangsa-bangsa di seluruh dunia.


