OAK Lawang Hotel, Saksi Para Tokoh Nusantara Gelar Pertunjukan

Published on

Oleh Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono

Malang, List Berita | Malam itu, OAK Hotel Lawang menjadi ruang perjumpaan berbagai tokoh.

Tokoh penting diantaranya; budayawan, seniman, komunitas, pegiat lingkungan, serta jejaring masyarakat yang memiliki perhatian terhadap masa depan budaya dan peradaban Nusantara.

Pertemuan tersebut menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang untuk menyatukan gagasan, pengalaman, serta kepedulian terhadap kebudayaan, lingkungan, pendidikan kehidupan, dan keberlanjutan peradaban Nusantara.

Hadir Ambasador OAK Hotel Lawang, Ki Guntur Bisowarno, yang menjadi salah satu penggerak dialog bersama “Saresehan Roso Orep Sejati” pada malam bersama berbagai elemen masyarakat.

Kehadirannya memperkuat ruang dan waktu berkualitas (KAIROS) komunikasi antar komunitas yang selama ini bergerak dalam bidang budaya kebudayaan, lingkungan hidup(ekosistem ekologi), adat istiadat kesenian, dan pemberdayaan serta pengembangan kualitas sumber daya manusia dalam masyarakat yang sudah bergabung di jaringan kerja dan jaringan lapangan Bamboo Spirit Nusantara Support System.

Dalam suasana penuh keakraban dan kehangatan, hadir pula Ki Sudarto Carito, Ki Setyo Argo (27Thn), Ki Dadang Tri Handoko (32 Thn) sebagai Dalang Tunanetra Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik.

Malam itu dengan Lakon “Drupadi Rajasuya Wanita Pinilih” sebagai Pagelaran Wayang Oak ke 4 di tahun 2026, serta Ki Winarno Sabdo, Penasehat PEPADI atau Persatuan Pedalangan Indonesia Jawa Timur.

BACA JUGA  Bhakti Drupadi untuk Bumi Pertiwi dan Pengabdian Kepada Kehidupan

Kehadiran para tokoh pedalangan tersebut memberikan warna dan hawa energi positip tersendiri, dalam pertemuan dan Saresehan Roso Orep Sejati di Oak Hotel Lawang.

Wayang dan pedalangan tidak hanya dipandang sebagai kesenian pertunjukan, tetapi juga sebagai Gambaran Sosok Bayangan Pagelaran Hidup.

Yang mengandung berbagai kebajikan, kearifan dan kebijaksanaan pengetahuan, filosofi, pendidikan karakter, serta perjalanan panjang kebudayaan peradaban Nusantara.

<

Turut hadir Ki Argo Setyo (27 Thn), Dalang Muda juga asuhan Guru Dalang Ki Sudarto Carito Sanggar Sekar Sari Purwosari Pasuruan, sekaligus pembuat wayang dalam beragam karakter Gagrak Wayang.

Kehadirannya menjadi pengingat bahwa, keberadaan wayang tidak dapat dipisahkan dari tangan-tangan kreatif para pelaku budaya yang terus menjaga proses penciptaan dan pewarisan pengetahuan tradisional serta nenek moyang leluhur manusantara.

Dari dunia sanggar, hadir Ki Tohari, Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur. Sanggar menjadi salah satu ruang penting bagi tumbuhnya proses belajar pembelajaran, penghayatan nilai, serta pembentukan generasi muda.

Yang memahami budaya bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bagian Daya Budi Daya Kesadaran dari perjalanan hidup penghidupan kehidupan yang mereka alami di Zaman ini.

BACA JUGA  Dari Bromo Tengger Semeru Menuju Peradaban Nusantara

Pertemuan Saresehan Roso Orep Sejati Oak Hotel Lawang, juga diwarnai kehadiran Kiswara, Saifulrohman, serta jejaring Kaweruh Batin Tulis Tapan Papan Kasunyatan (KBTTPK) yang membawa perspektif.

Mengenai pentingnya membaca Kitab Hidup Nyata dalam batin manusia selaras, dengan membaca fenomena penghidupan kehidupan melalui pengalaman, kesadaran, dan kearifan lokal universitas.

Sosok Bu Tantri atau Listyorini GAYANTRI, yang telah berusia 60 tahun, juga hadir dalam ruang kebersamaan tersebut.

Kehadirannya menjadi bagian dari keberagaman pengalaman hidup yang mempertemukan lintas generasi dan komunitas multipihak, dan berbagai latar belakang dalam satu ruang Dialog 1000 Pawiyatan Roso Orep Sejati Salam Nusantara.

Dari Singosari, hadir Paguyuban BATIK KITAB BAKTI, Batik Tulis Singosari Berfilosofi “Padma Catra” Komunitas tersebut menjadi bagian dari jejaring kebudayaan.

“Yang terus mempertemukan karya, tradisi, perilaku berbudi luhur, kreativitas, dan semangat masyarakat dalam menjaga identitas dan jati diri pribadi budaya Kebudayaan Peradaban Nusantara.

Tidak hanya budaya kebudayaan, perhatian terhadap lingkungan hidup juga menjadi bagian penting dalam pertemuan malam itu.

BACA JUGA  Bareskrim Polri Segel Ruko PT. TSL di Duga Edarkan Handphone Ilegal

Satgas Peduli Mata Air Nusantara turut hadir membawa kepedulian terhadap keberadaan, sumber-sumber air yang menjadi bagian fundamental bagi hidup penghidupan kehidupan masyarakat.

Kehadiran Pembina Penasehat Satgas Basis DELING yang diwakili Saiful Anwar, semakin memperluas pembicaraan mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup dan membangun jiwa kesadaran bersama terhadap ruang hidup penghidupan kehidupan masyarakat.

Dari Besalen Tumapel, hadir Ki Fanani. Besalen bukan hanya dapat dipahami sebagai ruang kerja, tetapi juga sebagai ruang pewarisan keterampilan, ketekunan, pengetahuan, dan nilai yang tumbuh melalui proses penghayatan hidup penghidupan kehidupan masyarakat.

Jejaring sosial kemasyarakatan juga hadir melalui Devid Kaji, Ketua Yayasan Salam Satu Jiwa.

Kehadirannya memperlihatkan bahwa pembangunan kebudayaan dan lingkungan membutuhkan, kerja bersama yang melibatkan kelembagaan dan pengorganisasian masyarakat yang legal secara luas.

Sementara itu, Sedulur Tunggal Banyu yang diwakili Harsoyo Joko Pitono, turut menjadi bagian dari pertemuan.

Berbagai komunitas tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan lokal masih memiliki ruang yang kuat, ketika masyarakat diberikan kesempatan untuk bertemu dan saling bertukar pengalaman, dengan menembangkan Tembang Salam Nusantara dan Salam Satu Jiwa.

BACA JUGA  Gubernur NTT Murka, Soroti Pembiaran Kasus Anak SD Gantung Diri

Dari sisi konservasi sumber daya alam, hadir pula perwakilan PPMAL atau Penghijauan Perlindungan Mata Air Lawang. Isu mata air menjadi semakin penting karena keberlangsungan hidup, penghidupan, kehidupan masyarakat.

Sangat berkaitan dengan kualitas lingkungan dan kemampuan menjaga kawasan sumber air serta, memunculkan sumber mata air baru diluar PDAM dan yang sudah ada.

Pembicaraan mengenai mata air pada akhirnya, tidak hanya berbicara tentang air.

Di dalamnya terdapat persoalan hutan, tanah, tumbuhan, tata ruang, budaya masyarakat, hingga martabat tanggung jawab universal (DUR DIGNITY UNIVERSAL RESPONSIBILITY) antar generasi dan antar warga penduduk Nusantara Bumi semesta.

Komunitas Kopi Peradaban Gunung Arjuno juga menjadi bagian dari pertemuan. Kopi (Komando Pikiran).

Dalam konteks tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan antara manusia, pertanian, pegunungan, ekonomi masyarakat, dan ekosistem yang menopang hidup penghidupan kehidupan.

Gunung Arjuno bukan semata bentang alam. Kawasan apegunungan Arjuno sebagai Induk Peradaban Dunia, memiliki hubungan sejarah peristiwa cerita yang panjang dengan masyarakat di sekitarnya.

BACA JUGA  Karpet Merah Bagi PMI Versi Kepala BP2MI Hingga Perangi Mafia

Termasuk dalam persoalan air, hutan, pangan, pertanian, kebudayaan, hingga pengetahuan lokal universal yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh nenek moyang leluhur Nusantara.

Hadir pula Pramono dari Paguyuban Komunitas Sungai Indonesia. Kehadirannya membawa perhatian pada sungai sebagai bagian penting, dari indikator peradaban sistem hidup penghidupan kehidupan yang harus dirawat secara bersama-sama.

Gunung, hutan, mata air, sungai dan masyarakat sesungguhnya berada dalam satu kesatuan ekosistem ekologi. Ketika salah satu bagian mengalami kerusakan, dampaknya akan dirasakan oleh bagian hidup penghidupan kehidupan lainnya.

Dari keseluruhan perjumpaan tersebut muncul satu benang merah, bahwa kebudayaan dan lingkungan hidup tidak seharusnya dipisahkan.

Keduanya merupakan bagian dari hidup, penghidupan, kehidupan manusia dan menjadi fondasi bagi keberlanjutan peradaban.

Budaya mengajarkan manusia bagaimana memperlakukan hidup penghidupan kehidupan, sementara lingkungan hidup menyediakan ruang tempat hidup penghidupan kehidupan itu dapat berlangsung berkelanjutan. Karena itu, merawat budaya sekaligus merawat alam menjadi bagian dari martabat tanggung jawab universal bersama.

OAK Hotel Lawang malam itu seakan menjadi ruang temu berbagai pengetahua, kearifan, kebajikan dan kebijaksanaan Para pelaku budaya, dalang, seniman, komunitas lingkungan, pemerhati mata air, penggerak masyarakat, hingga jejaring jurnalistik Kairos Kairozo untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi dalam satu suasana kebersamaandan kehangatan rasa batin diri.

BACA JUGA  Dana Hibah Nelayan di Pungli, Kadis Perikanan dan Pangan Geram

Pertemuan semacam ini menunjukkan, bahwa’ perubahan tidak selalu harus dimulai dari ruang formal.

Gagasan besar terkadang justru tumbuh dari percakapan sederhana, perjumpaan otentik antar manusia, serta keberanian untuk saling mendengarkan dan keterbukaan diri atas keberadaan satu sama lainnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, jejaring tersebut memiliki potensi, menjadi kekuatan sosial-kultural untuk membangun gerakan bersama.

Bukan gerakan yang hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi gerakan yang mampu menjadikan warisan pengetahuan Nusantara sebagai inspirasi menghadapi tantangan masa depan.

Nilai-nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, penghargaan terhadap guru dan orang tua, kepedulian terhadap sesama, serta penghormatan terhadap budaya menjadi fondasi yang terus relevan dalam kehidupan modern.

Malam itu juga, memperlihatkan bahwa berbagai komunitas memiliki jalur perjuangan masing-masing.

Ada yang bergerak melalui wayang, sanggar, batik, besalen, kopi, sungai, mata air, penghijauan, pendidikan masyarakat, maupun kerja-kerja jurnalistik.

BACA JUGA  Pelayanan RSUD Pratama Tapan, Diduga Abaikan Pasien Kritis

Namun, perbedaan jalur tersebut tidak harus menjadi sekat. Justru dari keberagaman itulah dapat lahir sebuah jejaring kebersamaan yang saling menguatkan.

Jejaring jurnalistik KAIROS KAIROZO menjadi bagian, dari ruang komunikasi tersebut.

Media memiliki peran penting dalam mendokumentasikan gagasan, menyuarakan pengalaman masyarakat, sekaligus mempertemukan berbagai inisiatif positif agar dapat diketahui publik secara lebih luas.

Pertemuan di OAK Hotel Lawang akhirnya bukan hanya meninggalkan cerita tentang siapa saja yang hadir. Lebih jauh, perjumpaan tersebut menyisakan pesan tentang pentingnya membangun ruang bersama untuk merawat budaya, menjaga alam, dan memperkuat hubungan antarmanusia.

Dari Lawang, sebuah pesan sederhana kembali mengemuka: peradaban tidak hanya dibangun dengan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi juga dengan kesadaran manusia untuk menjaga sumber kehidupan, menghormati kebudayaan, serta mewariskan bumi dan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

Malam di OAK Hotel Lawang pun menjadi, bagian dari perjalanan panjang merajut kebersamaan.

Dari budaya menuju lingkungan, dari komunitas menuju jejaring, dan dari percakapan menuju gerakan nyata untuk menjaga kehidupan serta merawat warisan peradaban Nusantara. (**Red**).

BACA JUGA  Praktisi Hukum: Siswa Harus Taat Peraturan Sekolah

Latest articles

Mengapa Wales dan England Sebagai Jembatan Nusantara, Ki Guntur Menjawab..

JAKARTA, List Berita | Peradaban Nusantara kembali menguat dari sudut pandang sosok Ki Guntur...

Bhakti Drupadi untuk Bumi Pertiwi dan Pengabdian Kepada Kehidupan

Malang, List Berita | Sosok Drupadi sang legenda tetap hidup ditengah, pengabdian untuk Bumi...

Pohon Gayam Dapat Mengatasi Polusi Udara Seperti Apa!!

Penulis Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi HartonoYogyakarta, List Berita | Di tengah semakin kuatnya perhatian terhadap...

Pariwisata Yogyakarta Jadi Sorotan Bamboo Spirit Nusantara, Destinasi Perlu Diperkuat

Penulis: Jurnalis Kairos-Kairozo Saidi Hartono. Yogyakarta, List Berita | Capaian sektor parawisata di Daerah Istimewa...

More like this