1000 Pawiyatan, SALAM NUSANTARA: Penghayatan Menuju Roso Orep Sejati

Published on

MALANG–PASURUAN, List Berita | Mengejawantahkan Salam Nusantara, dalam pertemuan tiga perjalanan penghayatan kebudayaan.

“Yang dibawa Ki Code alias Ohm DJ, Ki Tohari, dan Ki Broto menemukan sebuah titik temu penting tentang penghayatan. Tentang bagaimana manusia memandang dirinya, alam, kebudayaan, serta masa depan peradaban.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam rangkaian perjalanan pasca Kongres Kebudayaan di Pendopo Kabupaten, Alun-Alun Kota Malang, pada 8 Agustus 2026, kemudian berlanjut di Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur, Dusun Jati Kauman, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada 9 hingga 10 Agustus 2026.

Pertemuan itu tidak sekadar menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempertemukan tiga pendekatan: Pawiyatan sebagai ruang penghayatan dan pembelajaran,

Saresehan sebagai ruang dialog rasa dan kesadaran, serta perjalanan perajutan sebagai upaya menghubungkan kebudayaan, pengetahuan, teknologi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

Ki Code alias Ohm DJ, yang berasal dari lingkungan Sunda Wiwitan dan menjalani perjalanan kehidupan di kawasan Kali Code Yogyakarta, membawa gagasan 1000 Pawiyatan sebagai sebuah ajakan untuk kembali melihat dari mana sesungguhnya perjalanan manusia dimulai.

Pawiyatan dalam gagasan tersebut tidak hanya dipahami sebagai tempat pendidikan formal. Lebih jauh, Pawiyatan menjadi ruang untuk mempertanyakan wiwitane, yakni awal mula perjalanan manusia, dengan menjadikan penghayatan terhadap diri sebagai salah satu pintu masuk memahami kehidupan.

Penghayatan tersebut kemudian dikaitkan dengan peranan mindset, etika moral, serta sains spiritual melalui berbagai jalan perenungan, meditasi, keheningan, tafakur, refleksi diri, dan kontemplasi.

BACA JUGA  Dugaan Isu Aduan Warga, PTSL Bogor Timur Jawab Ini!!

Melalui proses tersebut, manusia diajak membangun kembali koneksi rasa batin dengan alam sekaligus dengan dimensi keilahian. Dengan demikian, 1000 Pawiyatan bukan semata-mata berbicara mengenai jumlah tempat belajar, tetapi tentang bagaimana sebanyak mungkin ruang kehidupan dapat menjadi tempat manusia belajar mengenali dirinya sendiri.

Gagasan tersebut kemudian menemukan resonansinya melalui perjalanan Ki Tohari, Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur, Dusun Jati Kauman, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Ki Tohari menghayati perjalanan tersebut melalui gagasan Roso Orep Sejati, yakni penghayatan mengenai rasa manusia dalam menjalani hidup, penghidupan, dan kehidupan yang hakiki.

<

Dalam pandangan tersebut, rasa tidak ditempatkan berlawanan dengan akal. Penghayatan justru dipertemukan dengan akal sehat, pengalaman kehidupan, hukum alam, sifat alamiah manusia, serta kesadaran ilahiah.

Karena itu, Saresehan Roso Orep Sejati menjadi ruang dialog untuk mempertemukan pengalaman, rasa, kesadaran, pengetahuan, karya, dan manfaat. Manusia diajak kembali melihat kehidupan secara logis, alamiah, natural, manusiawi, sekaligus memiliki kedalaman spiritual.

Sementara itu, Ki Broto merupakan gelar perjalanan BORO BROTO Guntur Bisowarno, Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Dalam perjalanan tersebut, Ki Broto mengambil posisi sebagai perajut berbagai gagasan dan pengalaman. Kebudayaan, sistem pengetahuan, teknologi, lingkungan, kehidupan sosial, serta pengalaman manusia dipertemukan untuk mencari kemungkinan lahirnya karya yang memiliki manfaat bagi kehidupan.

BACA JUGA  OAK Lawang Hotel, Saksi Para Tokoh Nusantara Gelar Pertunjukan

Jika Ki Code membuka pintu melalui pertanyaan tentang wiwitane dan penghayatan, sementara Ki Tohari menghidupkan ruang Roso Orep Sejati, maka perjalanan Ki Broto berupaya merajut keduanya menjadi sebuah jejaring yang dapat dipelajari, dikolaborasikan, dan diwujudkan dalam karya nyata.

Dari pertemuan ketiganya muncul satu kata penting, yaitu sinergitas. Sinergitas tidak hanya dimaknai sebagai kerja bersama, tetapi juga sebagai upaya memahami hubungan antara energi, resonansi, vibrasi, frekuensi, transformasi informasi, matrikulasi, hingga mitokondria dalam perspektif sains spiritual.

Dalam kerangka tersebut, tubuh manusia dipandang sebagai jagad kecil yang memiliki struktur, sistem, energi, informasi, dan kesadaran. Jagad kecil tersebut berada dalam hubungan dengan jagad besar, yakni tata alam semesta yang menjadi ruang kehidupan manusia.

Perspektif tersebut membawa manusia pada kesadaran bahwa dirinya bukan sesuatu yang berdiri terpisah dari alam. Manusia merupakan bagian dari jejaring kehidupan yang saling berhubungan, saling memengaruhi, dan terus mengalami proses transformasi.

Pertemuan Ki Code, Ki Tohari, dan Ki Broto akhirnya dapat dipahami sebagai pertemuan tiga jalur perjalanan: Pawiyatan, Saresehan, dan Perajutan.

Pawiyatan menghadirkan ruang belajar dan penghayatan. Saresehan menghadirkan ruang dialog, rasa, dan kesadaran. Sedangkan perajutan menghadirkan sistem, kolaborasi, karya, dan manfaat.

Dari sinilah gagasan 1000 Pawiyatan, Salam Nusantara mendapatkan ruang pemaknaan. Pawiyatan tidak hanya dibaca sebagai sebuah penanda perpisahan, tetapi juga sebagai simbol perjalanan untuk melangkah dari satu kesadaran menuju kesadaran berikutnya.

BACA JUGA  Omah Budaya Kahangnan Jembatan Perwujudan Program GKR Bendoro

Seribu Pawiyatan dapat menjadi seribu ruang pembelajaran. Dari ruang pembelajaran lahir perjumpaan. Dari perjumpaan tumbuh saresehan. Dari saresehan muncul kesadaran.

Dari kesadaran lahir karya. Dan dari karya yang memberikan manfaat, tumbuh warisan kebudayaan bagi generasi mendatang.
Pada akhirnya, perjalanan ketiga tokoh tersebut bukan dimaksudkan untuk menyeragamkan jalan kebudayaan dan penghayatan.

Sebaliknya, keberagaman pengalaman justru ditempatkan sebagai kekuatan untuk membangun keselarasan.

Salam Nusantara menjadi semangat untuk merajut keberagaman, menjaga hubungan manusia dengan alam, menghormati sesama, serta mengembangkan kebudayaan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih manusiawi dan beradab.

Dari penghayatan menuju kesadaran. Dari kesadaran menuju karya. Dari karya menuju manfaat. Dan dari manfaat menuju cahaya peradaban.

“Bersama kita belajar, bersama kita berkarya, bersama kita menjadi cahaya peradaban.” (Penulis: Saidi Hartono).

BACA JUGA  Pariwisata Yogyakarta Jadi Sorotan Bamboo Spirit Nusantara, Destinasi Perlu Diperkuat

Latest articles

Hunian Mewah Lapas Cibinong, Ombudsman Bongkar Skenario

BOGOR, LIST BERITA | Sorotan tajam kini mengarah ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA...

Macron Tekankan Ambil Langkah Darurat Pasokan Energi

PARIS, List Berita | Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan, Komisi Eropa mengambil langkah darurat...

Esensi Bunga Mawar, Ikon Oaksperience Oak Lawang Hotel: Simbol Transformasi

LAWANG, List Berita | Bunga Mawar menjadi salah satu ikon yang menarik, dalam perjalanan...

DPRD Kota Bogor Soroti Kepedulian Polri, dari RTLH hingga Ojol

BOGOR, LIST BERITA | Kepedulian terhadap persoalan sosial masyarakat menjadi, salah satu perhatian yang...

More like this