Kupang – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena meluapkan, kekecewaannya terhadap para kepala daerah serta tokoh lintas agama.
Menyusul peristiwa tragis seorang anak, Sekolah Dasar (SD) yang meninggal dunia akibat gantung diri.
Tragedi memilukan terjadi di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBR, ditemukan meninggal dunia setelah gantung diri di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.
Diduga kuat, korban nekat mengakhiri hidupnya, karena kecewa tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah.
Peristiwa ini mengguncang rasa kemanusiaan publik, dan memantik keprihatinan luas.
Gubernur NTT Melki Laka Lena menanggapi keras kejadian tersebut.
Dalam unggahan video di akun Instagram resminya @melkilakalena.official, Melki menyebut tragedi ini sebagai alarm keras kegagalan pranata sosial di Nusa Tenggara Timur.
Ia menilai telah terjadi pembiaran serius dan minim kepedulian dari berbagai pihak yang seharusnya hadir melindungi anak-anak.
Dalam pernyataannya, Gubernur menegaskan bahwa tragedi tersebut bukan semata persoalan keluarga, melainkan kegagalan kolektif pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga para pemuda dalam menciptakan lingkungan yang aman dan peduli terhadap anak.
“Semua kepala daerah, tokoh lintas agama, dan para pemuda seolah membiarkan. Tidak ada kepedulian terhadap anak ini sampai akhirnya meninggal dunia. Ini sangat memalukan,” tegas Gubernur dengan nada keras.
Ia menilai lemahnya pengawasan sosial serta absennya deteksi dini terhadap, persoalan psikologis anak menjadi faktor utama terjadinya peristiwa memilukan tersebut.
Menurutnya, anak seusia SD seharusnya mendapatkan perlindungan maksimal dari lingkungan terdekat, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah.
Gubernur juga menyoroti peran pemerintah kabupaten/kota yang dinilai tidak tanggap terhadap persoalan sosial di tingkat akar rumput. Ia meminta agar kejadian serupa tidak lagi terjadi di wilayah NTT.
“Kalau anak SD sampai mengakhiri hidupnya, berarti ada yang sangat salah dalam sistem kita. Semua harus introspeksi,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Gubernur meminta seluruh kepala daerah memperkuat sistem perlindungan anak, meningkatkan koordinasi lintas sektor, serta melibatkan tokoh agama dan pemuda dalam pendampingan sosial dan psikologis anak-anak di daerah masing-masing.
Peristiwa ini diharapkan menjadi peringatan keras bagi semua pihak, agar tidak lagi bersikap abai terhadap persoalan anak.
Serta menjadikan keselamatan dan kesehatan mental anak sebagai, prioritas utama pembangunan sosial di NTT.


