List Berita | Saat Rusia memperingati 81 tahun kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, diselenggarakan pada 8 April 2026 di Moskow.
Perhatian dunia kembali tertuju pada sejarah panjang hubungan internasional, yang terbentuk dari konflik global tersebut.
Di tengah dinamika geopolitik modern, hubungan India dan Rusia menjadi salah satu contoh kemitraan strategis yang telah terjalin selama puluhan tahun dan terus bertahan hingga saat ini.
Dalam Perang Dunia II, Uni Soviet dan pasukan India yang saat itu masih berada di bawah komando Inggris memainkan peranan besar dalam menghadapi kekuatan Poros.
Tentara Soviet bertempur sengit melawan pasukan Jerman di Front Timur Eropa, sementara pasukan India terlibat dalam berbagai medan perang, mulai dari Asia Tenggara, Afrika Utara, Asia Barat hingga Italia.
Kedua pihak bahkan sempat bekerja sama dalam, operasi Anglo-Soviet di Iran untuk mengamankan jalur logistik Sekutu menuju Uni Soviet.
Di masa yang sama, tokoh perjuangan kemerdekaan India, Subhas Chandra Bose, mencoba mencari dukungan internasional demi membebaskan India dari penjajahan Inggris.
Uni Soviet menjadi salah satu negara pertama, yang ingin ia dekati pada tahun 1941 sebelum akhirnya berhubungan dengan Jerman dan Jepang.
Meski demikian, Bose tetap mengecam invasi Jerman terhadap Uni Soviet dan memandang Rusia sebagai kekuatan penting dalam percaturan dunia.
Hubungan emosional masyarakat India, terhadap Rusia sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum India merdeka.
Banyak pemimpin dan intelektual India melihat transformasi Uni Soviet sebagai, simbol kemajuan sebuah negara agraris menuju kekuatan besar dunia.
Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru, mengunjungi Moskow pada tahun 1927, sementara sastrawan Rabindranath Tagore juga dikenal mengagumi perkembangan sosial dan industri Soviet kala itu.
Setelah India merdeka pada tahun 1947, hubungan kedua negara berkembang secara bertahap meskipun sempat diwarnai perbedaan pandangan politik.
Perubahan besar terjadi setelah naiknya Nikita Khrushchev di Uni Soviet, yang mendorong konsep “hidup berdampingan secara damai” di tengah ketegangan Perang Dingin.
Kebijakan luar negeri India yang mengusung gerakan non-blok dan prinsip Panchsheel, membuat Moskow mulai memandang New Delhi sebagai mitra strategis penting di Asia.
Hubungan bilateral semakin erat setelah kunjungan, Nehru ke Uni Soviet dan kunjungan Khrushchev ke India pada tahun 1955.
Kedua negara juga menunjukkan sikap serupa dalam sejumlah isu internasional, termasuk Krisis Suez dan berbagai persoalan dekolonisasi dunia.
Memasuki dekade 1960-an, Uni Soviet menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan pertahanan India.
Setelah konflik India-Tiongkok tahun 1962, New Delhi mulai melakukan modernisasi militer besar-besaran dengan dukungan teknologi dan persenjataan Soviet.
Tidak hanya di bidang militer, Moskow juga membantu pembangunan sektor industri India, termasuk proyek besar seperti Pabrik Baja Bhilai yang hingga kini masih menjadi simbol kerja sama ekonomi kedua negara.
Pada krisis Bangladesh tahun 1971, hubungan India dan Uni Soviet mencapai titik paling strategis. Kedua negara menandatangani Perjanjian Perdamaian,
Persahabatan, dan Kerja Sama yang memperkuat posisi India di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dari Amerika Serikat, Pakistan, dan Tiongkok.
Setelah Uni Soviet bubar pada tahun 1991, hubungan kedua negara sempat mengalami penurunan.
Namun kebangkitan Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin pada awal 2000-an, kembali menghidupkan kerja sama strategis dengan India.
Hubungan bilateral bahkan ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis Khusus dan Istimewa.
Dalam beberapa tahun terakhir, India dan Rusia tetap mempertahankan kerja sama erat di berbagai sektor, mulai dari pertahanan, energi, perdagangan hingga forum internasional seperti BRICS.
Kedua negara juga kerap memiliki pandangan serupa, dalam menyikapi isu global dan tatanan dunia multipolar.
Kisah panjang hubungan India dan Rusia menunjukkan bahwa kemitraan antarnegara tidak hanya dibangun oleh kepentingan politik sesaat, tetapi juga oleh sejarah, kepercayaan, dan pengalaman panjang menghadapi perubahan dunia.
Dikisahkan oleh Aaryaman Nijhawan, peneliti dan analis hubungan internasional. Ia adalah lulusan pascasarjana Universitas Delhi dan Institut Hubungan Internasional Negara Bagian Moskow (Universitas MGIMO), Federasi Rusia. Dilaporkan dari Russia Today.


