Tantangan Hidup di Luar Angkasa: Dari Sulit Bersendawa hingga Drama Toilet

Published on

AS, List Berita | Kehidupan di luar angkasa bukanlah, pengalaman yang semudah dibayangkan banyak orang.

Di balik pemandangan indah Bumi dari orbit dan teknologi canggih pesawat antariksa, para astronot harus menghadapi berbagai tantangan unik akibat kondisi mikrogravitasi.

Aktivitas sederhana yang biasa dilakukan manusia di Bumi, justru menjadi pekerjaan rumit ketika berada di ruang hampa tanpa gaya gravitasi.

Salah satu hal yang jarang diketahui publik adalah, sulitnya tubuh manusia beradaptasi dalam kondisi tanpa gravitasi.

Bahkan aktivitas sederhana seperti bersendawa hampir mustahil, dilakukan secara normal. Dilaporkan oleh Daniel Meager Sceicing (5/5/2026).

Dalam kondisi mikrogravitasi, gas di dalam tubuh tidak bisa naik seperti di Bumi karena tidak ada gaya gravitasi yang membantu proses tersebut.

Akibatnya, para astronot lebih sering mengalami, pelepasan gas melalui cara lain.

BACA JUGA  Lancarkan Balasan Iran Ledakan Kota TEL AVIV Israel

Fenomena ini menjadi salah satu efek unik kehidupan, di luar angkasa yang selama ini jarang dibahas secara terbuka.

Para ilmuwan hingga kini belum menemukan solusi teknologi, yang benar-benar efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Selain persoalan gas tubuh, tantangan lain yang jauh lebih rumit adalah aktivitas buang air besar dan kecil di luar angkasa.

<

Di Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS, sistem toilet dirancang sangat berbeda dibandingkan toilet di Bumi.

Teknologi khusus berbasis hisapan udara, digunakan agar limbah manusia tidak melayang bebas di kabin.

Astronot senior NASA, Peggy Whitson, pernah mengungkapkan pengalamannya, selama menjalani ratusan hari di ISS.

Ia menjadi salah satu astronot Amerika Serikat, dengan rekor waktu tinggal terlama di luar angkasa, yakni mencapai 665 hari selama beberapa misi berbeda.

BACA JUGA  Pernyataan Trump: Zelenskyy Seharusnya Tamat Pimpin Ukraina Sejak Tahun 2024

Menurut Whitson, proses buang air besar di luar angkasa membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi.

Hal tersebut disebabkan ukuran lubang toilet ISS yang sangat kecil, dan sistem penggunaannya yang tidak biasa.

Astronot harus memastikan posisi tubuh benar-benar tepat, agar limbah masuk ke dalam saluran penyimpanan.

Jika tidak berhati-hati, kotoran dapat terlepas dan melayang, di dalam kabin stasiun luar angkasa.

Para awak ISS bahkan memiliki istilah khusus untuk kejadian tersebut, yakni “brown trout” atau “ikan trout cokelat.

Situasi ini tentu menjadi pengalaman, yang tidak menyenangkan bagi para kru.

Toilet ISS sendiri menggunakan teknologi vakum, untuk membantu menarik limbah menuju wadah penampungan.

Astronot biasanya menggunakan pijakan kaki dan pegangan tangan, agar posisi tubuh tetap stabil selama menggunakan toilet.

BACA JUGA  Hubungan PM Inggris Starmer dan Presiden AS Trump Renggang

Sistem ini dirancang karena tubuh manusia, cenderung melayang dalam kondisi tanpa gravitasi.

Sementara itu, urine para astronot tidak dibuang ke luar angkasa. Cairan tersebut justru dikumpulkan dan didaur ulang menjadi air bersih yang dapat digunakan kembali.

Teknologi daur ulang air menjadi bagian penting, dalam misi luar angkasa karena setiap tetes air memiliki nilai sangat berharga selama perjalanan antariksa.

Badan antariksa seperti NASA dan European Space Agency, terus mengembangkan berbagai teknologi untuk membantu tubuh manusia beradaptasi di luar angkasa.

Salah satunya adalah alat bernama Chibis, yaitu celana khusus berbasis tekanan vakum yang membantu mengalirkan cairan tubuh kembali ke bagian bawah tubuh astronot.

Ketika pertama kali tiba di ISS, cairan tubuh astronot biasanya bergerak menuju bagian kepala akibat tidak adanya gravitasi.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekanan, pada mata dan memicu gangguan penglihatan sementara. Chibis dirancang untuk membantu mengurangi risiko tersebut.

Teknologi vakum memang menjadi salah satu sistem paling penting, dalam kehidupan di luar angkasa.

BACA JUGA  Sanksi Minyak Rusia oleh AS, Upaya Stabilkan Pasar Energi Global 

Selain digunakan pada toilet, prinsip hisapan udara juga diterapkan pada berbagai perangkat medis dan sistem penyimpanan di ISS.

Tanpa teknologi tersebut, aktivitas harian para astronot akan jauh lebih sulit dilakukan.

Meski terlihat modern, kehidupan di stasiun luar angkasa tetap memerlukan adaptasi mental dan fisik yang besar.

Para astronot harus menjalani pelatihan intensif selama, bertahun-tahun untuk menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi selama misi berlangsung.

Tantangan hidup di luar angkasa juga menjadi pelajaran penting, bagi pengembangan misi manusia ke Bulan maupun Mars di masa depan.

Para ilmuwan terus mempelajari bagaimana tubuh manusia merespons, mikrogravitasi dalam jangka panjang agar perjalanan antariksa dapat dilakukan dengan lebih aman dan nyaman.

Berbagai pengalaman unik para astronot menunjukkan bahwa, eksplorasi luar angkasa bukan hanya soal teknologi canggih dan perjalanan spektakuler.

BACA JUGA  Ketidakpuasan Warga AS Terhadap Donald Trump Capai 62 Persen

Di balik semua itu, terdapat perjuangan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan ekstrem yang sangat berbeda dari kehidupan di Bumi.

Latest articles

Pelepasan Jamaah Haji, Ketua DPRD Kota Bogor Titip Pesan dan Doa

Bogor, List Berita | Suasana menyelimuti saat pelepasan 438 calon jamaah haji asal Kota...

Partai Buruh Inggris Terkapar, Keir Starmer Menolak Mundur

London, List Berita | Gelombang penolakan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, mengguncang...

Jerman Dorong Reformasi Uni Eropa, Hak Veto

Berlin, List Berita | Pemerintah Jerman bersama sejumlah negara anggota Uni Eropa mulai, mendorong...

Ciptakan Lingkungan Pemasyarakatan, Lapas IIA Gladi Resik

Jakarta, List Berita | Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta menegaskan komitmennya, dalam menciptakan lingkungan...

More like this