London, List Berita | Gelombang penolakan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, mengguncang panggung politik Britania Raya.
Setelah Partai Buruh mengalami kekalahan besar, dalam pemilihan parlemen di Skotlandia dan Wales serta pemilihan lokal di Inggris.
Hasil penghitungan suara hingga Jumat malam, menunjukkan Partai Buruh kehilangan lebih dari 1.300 kursi dewan lokal di Inggris.
Selain itu, partai pimpinan Starmer juga kehilangan, sekitar lima kursi di Parlemen Skotlandia dan 21 kursi di Senedd Wales.
Meski mendapat tekanan dari sejumlah tokoh internal partai untuk mundur, termasuk Menteri Energi Ed Miliband, Starmer menegaskan dirinya tidak akan meninggalkan jabatan perdana menteri.
“Ketika para pemilih mengirimkan pesan seperti ini, kami harus melakukan refleksi dan meresponsnya,” ujar Starmer kepada media.
Namun ia menolak desakan pengunduran diri, dengan alasan tidak ingin membawa Inggris ke dalam ketidakstabilan politik. Dilaporkan dari Russia Today pada Jumat, (8/5/2026).
Dalam pemilihan kali ini, sekitar 5.066 kursi dewan lokal di Inggris diperebutkan bersama seluruh kursi parlemen Skotlandia dan Wales.
Partai Buruh yang sebelumnya menguasai 5.873 kursi lokal diperkirakan, hanya akan menyisakan sekitar 4.000 kursi setelah hasil akhir diumumkan.
Kekalahan paling telak terjadi di Wales. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad, Partai Buruh terancam kehilangan kendali politik di wilayah tersebut.
Menteri Pertama Wales, Eluned Morgan, bahkan dilaporkan kehilangan kursinya, sementara Plaid Cymru dan Reform UK tampil dominan di Senedd Wales.
Namun keterpurukan Buruh tidak otomatis menjadi, keuntungan bagi Partai Konservatif.
Partai Tory justru diprediksi turut kehilangan sekitar 550 kursi dewan lokal, ditambah 16 kursi di Skotlandia dan sembilan kursi di Wales.
Pemenang terbesar dalam pemilu kali ini adalah Reform UK, yang dipimpin Nigel Farage.
Partai tersebut berhasil merebut lebih dari 1.200 kursi dewan lokal, dan mencatat lonjakan dukungan signifikan di sejumlah wilayah basis konservatif.
Di Suffolk misalnya, Reform UK meraih 37 kursi, sementara Partai Konservatif kehilangan 36 kursi.
Farage selama ini dikenal keras mengkritik pemerintahan konservatif terkait tingginya, imigrasi dan memburuknya biaya hidup masyarakat Inggris.
“Ini adalah momen besar, bukan hanya bagi partai kami, tetapi juga perubahan total dalam politik Inggris,” kata Farage. Ia menyebut Partai Buruh kini “terhapus” dari banyak wilayah penting.
Selain Reform UK, Partai Hijau juga ikut meraup keuntungan politik. Wakil pemimpin Partai Hijau, Zack Polanski, mengatakan.
Banyak mantan pendukung Partai Buruh beralih mendukung partainya, karena kecewa terhadap kebijakan penghematan pemerintah Starmer dan sikapnya terhadap konflik Israel.
“Saya pernah mengatakan bahwa Partai Hijau akan menggantikan Partai Buruh, dan kini itu mulai terlihat di seluruh negeri,” ujar Polanski.
Hasil pemilu lokal ini dipandang sebagai sinyal kuat perubahan arah politik Inggris, dengan munculnya kekuatan baru yang mulai menggerus dominasi tradisional Partai Buruh dan Partai Konservatif.


