Moskow, List Berita | Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyoroti sejumlah isu strategis global.
Dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Mesir, Jumat (3/4/2026), sebagaimana dilansir dari Sputnik.
Dalam pernyataannya, Lavrov menegaskan bahwa stabilitas kawasan dan penyelesaian konflik internasional.
Harus didasarkan pada akar permasalahan, bukan sekadar pendekatan sementara.
Fokus pada Akar Krisis Ukraina
Lavrov menegaskan bahwa bagi Rusia, penyelesaian konflik di Ukraina bukan sekadar penghentian perang, melainkan harus menyentuh akar penyebab krisis secara menyeluruh.
Menurutnya, pendekatan parsial hanya akan memperpanjang ketegangan tanpa solusi jangka panjang.
Sorotan konflik Teluk Persia, dalam konteks Timur Tengah, Lavrov menekankan pentingnya:
Penghentian konflik militer di kawasan Teluk Persia
Dimulainya proses negosiasi yang inklusif dan berimbang, Ia menyebut eskalasi yang terjadi saat ini berpotensi memperburuk stabilitas regional dan global.
Kritik terhadap Draft Resolusi Selat Hormuz
Lavrov juga menyoroti draft resolusi yang diajukan oleh Bahrain, di Dewan Keamanan PBB terkait Selat Hormuz. Menurutnya, dokumen tersebut:
Tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap perdamaian
Berpotensi memperkeruh situasi
Jarang meningkatkan peluang penyelesaian damai
Peringatan soal Upaya Menggagalkan Negosiasi
Lavrov memperingatkan, adanya pihak-pihak tertentu yang berupaya: Menghambat proses negosiasi terkait Iran.
Memperkeruh situasi keamanan di kawasan, Ia menilai resolusi Dewan Keamanan PBB berisiko:
Disalahgunakan untuk menggagalkan diplomasi
Dijadikan legitimasi untuk tindakan militer terhadap Iran
Seruan kepada Amerika Serikat
Secara tegas, Lavrov menyerukan kepada Amerika Serikat untuk: Menghentikan konflik militer terhadap Iran.
Tidak menjadikan isu penutupan Selat Hormuz, sebagai fokus utama. Menurutnya, langkah tersebut justru dapat memperparah ketegangan global.
Catatan Redaksi
Pernyataan Lavrov, mencerminkan posisi Rusia yang konsisten dalam mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Sekaligus mengkritisi pendekatan militer yang, dinilai kontraproduktif terhadap stabilitas kawasan.


