Strasbourg, List Berita | Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kembali menegaskan, arah strategis Uni Eropa.
Untuk memperkuat kapasitas pertahanan, keamanan, teknologi, energi, serta perlindungan masyarakat dalam pidato State of the Union 2026 di hadapan Parlemen Eropa, Rabu (16/9/2026).
Pidato tersebut berlangsung di tengah perubahan lingkungan geopolitik Eropa yang ditandai perang Rusia-Ukraina, meningkatnya perhatian terhadap keamanan kawasan, persaingan teknologi global, serta kebutuhan Uni Eropa memperkuat ketahanan ekonominya.
Salah satu pengumuman yang paling mendapat perhatian adalah rencana membuka jalan bagi Kanada untuk menjadi negara pertama dengan status “associate member” Uni Eropa.
Pengumuman itu disampaikan von der Leyen di hadapan Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang hadir dalam rangkaian agenda di Parlemen Eropa.
Reuters melaporkan bahwa konsep “associate member” tersebut merupakan status baru, yang belum secara khusus diatur dalam traktat Uni Eropa.
Karena itu, rincian mengenai bentuk hubungan dan hak serta kewajibannya masih perlu dijabarkan lebih lanjut.
Von der Leyen menggambarkan, hubungan baru dengan Kanada sebagai bagian dari upaya membangun kemitraan yang lebih erat dalam menghadapi perubahan geopolitik dan tantangan strategis.
Kerja sama tersebut mencakup bidang pertahanan, energi, teknologi, serta bahan baku penting yang dinilai semakin strategis bagi ketahanan industri Eropa.
Dalam bidang keamanan, von der Leyen kembali mendorong peningkatan kemampuan pertahanan Eropa.
Arah kebijakan tersebut mencakup pengembangan kemampuan bersama, peningkatan kesiapan pertahanan, serta penguatan kerja sama dengan negara-negara mitra.
Ukraina tetap menjadi salah satu bagian penting dalam agenda keamanan Uni Eropa.
Kebijakan terhadap Ukraina diarahkan pada dukungan terhadap kemampuan pertahanan negara tersebut sekaligus penguatan industri pertahanan Eropa melalui kerja sama teknologi dan produksi.
Sementara itu, hubungan Uni Eropa dengan Rusia tetap menjadi salah satu persoalan utama dalam kebijakan keamanan kawasan.
Von der Leyen juga mempertahankan pendekatan Uni Eropa yang menempatkan perang di Ukraina sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan keamanan Eropa.
Selain pertahanan, agenda energi menjadi perhatian penting dalam pidato tersebut.
Von der Leyen menempatkan energi nuklir sebagai salah satu bagian dari pembahasan mengenai masa depan sistem energi Eropa, di samping energi bersih dan kebutuhan untuk memastikan pasokan energi yang aman bagi industri.
Di sektor teknologi, Uni Eropa juga diarahkan untuk meningkatkan investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
Pengembangan pusat komputasi dan infrastruktur digital menjadi bagian dari upaya Eropa memperkuat kemampuan teknologinya sendiri di tengah persaingan global.
Kebutuhan energi untuk menopang perkembangan kecerdasan buatan juga menjadi persoalan yang tidak terpisahkan dari agenda tersebut.
Dengan demikian, teknologi, energi dan industri ditempatkan dalam satu kerangka strategis untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing Eropa.
Perhatian lainnya diarahkan pada perlindungan anak di ruang digital.
Von der Leyen menyoroti risiko yang dapat dihadapi anak-anak melalui media sosial, termasuk perundungan daring, konten dewasa, promosi tindakan menyakiti diri, serta desain algoritma yang dapat mendorong penggunaan berlebihan.
Ia menyatakan bahwa Uni Eropa perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih kuat terhadap akses anak-anak ke media sosial.
Dalam pidatonya, von der Leyen juga menyebut Australia sebagai salah satu negara yang sedang menerapkan pembatasan media sosial bagi anak dan mengatakan Uni Eropa akan mempelajari penerapannya.
Ia berencana, meminta panel ahli memberikan rekomendasi mengenai pendekatan yang dapat diterapkan di Eropa.
Agenda tersebut menunjukkan bahwa kebijakan digital Uni Eropa tidak hanya diarahkan pada perkembangan teknologi, tetapi juga pada perlindungan pengguna, khususnya kelompok usia anak.
Di sisi lain, penguatan pertahanan dan keamanan menjadi bagian dari agenda yang lebih luas untuk meningkatkan kemampuan Uni Eropa menghadapi perubahan lingkungan strategis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa memang telah memperluas berbagai program pertahanan bersama, termasuk pendanaan dan kerja sama industri pertahanan.
Von der Leyen juga menekankan pentingnya kemampuan Eropa untuk menentukan sendiri arah strategisnya dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik.
Pada saat yang sama, hubungan transatlantik tetap menjadi bagian penting dari perhitungan strategis Uni Eropa.
Kehadiran Kanada dalam agenda tersebut memperlihatkan upaya Brussels memperluas jaringan kemitraan dengan negara-negara yang dipandang memiliki kepentingan strategis yang beririsan.
Namun, status “associate member” untuk Kanada masih membutuhkan proses lanjutan untuk menentukan bentuk kelembagaan dan ruang lingkup hubungan tersebut.
Dengan sejumlah agenda besar tersebut, pidato State of the Union 2026 memperlihatkan fokus Uni Eropa pada empat bidang utama: keamanan, pertahanan, teknologi dan ketahanan energi.
Perubahan tersebut berlangsung ketika Eropa menghadapi tekanan geopolitik sekaligus persaingan ekonomi dan teknologi yang semakin kuat.
Bagi Brussels, tantangannya bukan hanya menjaga keamanan kawasan, tetapi juga memastikan Eropa memiliki kemampuan teknologi, energi dan industri yang cukup untuk mempertahankan daya saingnya.
Pidato von der Leyen sekaligus menjadi gambaran, mengenai arah kebijakan Uni Eropa.
Dalam menghadapi periode berikutnya: memperkuat pertahanan, memperluas kemitraan strategis, meningkatkan kapasitas teknologi, mengamankan energi dan memperketat perlindungan anak di ruang digital.
Sementara itu, rincian pelaksanaan berbagai agenda tersebut masih akan bergantung pada proses politik, kelembagaan dan keputusan negara-negara anggota Uni Eropa.
Khusus mengenai Kanada, langkah menuju status “associate member” menjadi perkembangan baru yang masih harus diterjemahkan ke dalam kerangka hubungan yang lebih konkret.
Dengan demikian, pidato keenam von der Leyen sebagai Presiden Komisi Eropa tidak hanya berbicara mengenai kondisi Eropa saat ini.
Tetapi juga menawarkan arah baru mengenai bagaimana Uni Eropa, ingin menempatkan dirinya dalam tatanan global yang terus berubah. (Breden).


