Titik Nol “Brantas” Penulis: Jurnalis Kairos-Kairozo
Pasuruan, List Berita | Ada yang menarik dari pembacaan, terhadap istilah “Titik Nol” dan “Brantas”.
Hal itu disampaikan oleh Pemimpin Bamboo Spirit Nusantara, Ki Guntur Bisowarno kepada Jurnalis Kairos-Kairozo: Saidi Hartono.
Ia mengatakan bukan sekadar persoalan geografis tentang dari mana sebuah aliran sungai dimulai, dan ke mana akhirnya bermuara.
”Tetapi” juga dapat menjadi pintu masuk untuk membaca sebuah gagasan yang lebih luas tentang perjalanan kehidupan, pengetahuan, dan peradaban.
Gagasan tersebut disampaikan Ki Guntur dengan mengajak masyarakat untuk melihat kembali makna “Titik Nol”, termasuk ketika dikaitkan dengan aliran Sungai Brantas dari kawasan hulu menuju hilir.
“Coba lihat tanggal posting, 6/9,” demikian salah satu penekanan Ki Guntur.
Menurutnya, angka dan istilah yang tampak sederhana terkadang dapat membuka ruang perenungan yang lebih dalam.
Ketika sebuah kelompok atau ruang diskusi menggunakan nama Titik Nol, pertanyaannya bukan hanya mengenai angka nol sebagai permulaan, tetapi juga bagaimana manusia memahami sebuah awal.
“Cukup tahukah Anda, group ini bertajuk Titik Nol, kok gak sadar, bisa berbunyi NOL KECIL, NOL SEDANG, NOL BESAR, NOL NOL NOL,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut terdengar sederhana, namun menyimpan permainan makna. Nol dapat menjadi titik awal, tetapi juga dapat menjadi simbol ruang kosong yang justru memungkinkan sesuatu dimulai kembali.
Dalam konteks DAS Brantas, perjalanan air dari wilayah hulu menuju hilir juga dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan panjang.
Air bergerak dari sumber, mengalir melewati berbagai wilayah, bertemu dengan anak-anak sungai, membawa kehidupan, hingga akhirnya mencapai wilayah hilir.
Dari sudut pandang geografis, DAS Brantas tentu merupakan kawasan hidrologis yang memiliki sistem sungai dan anak sungai.
Namun Ki Guntur mengajak melihat kata “Brantas” tidak semata-mata sebagai nama sebuah sungai.
“Cukup tahukah bahwa BRANTAS itu belum tentu SUNGAI.”
Kalimat tersebut menjadi titik penting dalam gagasannya. Kata brantas dapat dibaca sebagai kata kerja atau simbol tindakan: sesuatu yang harus diberantas, dilawan, dikurangi, atau dihilangkan.
Karena itu, ia kemudian memberikan sejumlah kemungkinan makna:
BRANTAS KEJAHATAN.
BRANTAS KEBODOHAN.
BRANTAS PEMBODOHAN.
BRANTAS PENGKERDILAN.
Di sinilah pembacaan terhadap Brantas bergeser dari sekadar ruang geografis menuju ruang pemikiran.
Jika sungai mengalir dari hulu menuju hilir, maka manusia pun dapat dipandang sedang menjalani perjalanan dari satu titik awal menuju tujuan.
Yang dibawa sepanjang perjalanan bukan hanya air, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, kesadaran, serta nilai-nilai kehidupan.
“Titik Nol” kemudian dapat dimaknai sebagai kesediaan untuk kembali melihat dari awal: dari mana pemikiran berasal, bagaimana pengetahuan dibentuk, dan ke mana arah perjalanan tersebut akan dibawa.
Sementara “Brantas” dapat menjadi semangat untuk membersihkan berbagai hal yang dianggap menghambat kemajuan manusia.
Mulai dari kejahatan, kebodohan, pembodohan, hingga berbagai bentuk pengkerdilan terhadap pikiran.
Dengan demikian, pertanyaan tentang “Brantas membentuk angka apa?” tidak harus berhenti pada bentuk fisik aliran sungai jika dilihat dari peta.
Pertanyaan itu justru dapat menjadi pemantik untuk membaca pola, arah, dan simbol yang muncul dari perjalanan aliran tersebut.
Apakah aliran Brantas jika ditarik dari titik nol hulu menuju hilir membentuk sebuah angka tertentu? Atau justru bentuk tersebut merupakan cara manusia membaca alam melalui simbol?
Pertanyaan itu terbuka untuk diamati dan didiskusikan.
Yang jelas, gagasan Ki Guntur menempatkan Titik Nol bukan hanya sebagai titik permulaan geografis. Ia dapat menjadi titik untuk mengoreksi cara berpikir.
Dari titik nol, manusia memulai.
Dari aliran, manusia belajar bergerak.
Dari perjalanan menuju hilir, manusia belajar mengenai arah dan tujuan.
Dan dari kata Brantas, muncul sebuah pertanyaan yang lebih luas: apa yang harus kita brantas dari kehidupan agar pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban dapat terus mengalir?
Pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukan sekadar menemukan angka yang dibentuk oleh aliran Brantas, melainkan menemukan makna di balik perjalanan dari “Titik Nol” menuju tujuan.
Sebab sebuah titik awal tidak akan berarti apabila perjalanan tidak memiliki arah. Dan sebuah aliran tidak akan berarti apabila tidak memberi kehidupan.
Kemana, Kok gak tahu dan gak sadar dia ada dimana, yaitu Titik Nol dia, berpijak menuju Kemana !?!
Dari Kemana, Dimana yang presisi, Kita melangkah Bagaimana Kita kesana dari Titik Nol masing masing, selanjutnya bagaimana Kita dan Anda tahu.
Sadar memahami dan mengerti dimana anda, kemana anda, serta bagaimana Anda tahu sudah di titik berangkat Anda dan sudah tahu, sudah mencapai titik tujuan anda. Itulah mengenal Akunya aku, dan Bahagia dalam Takdir.


