Jakarta, List Berita | Insiden kecelakaan yang melibatkan sebuah taksi listrik dengan dua rangkaian kereta api, yakni kereta jarak jauh dan kereta komuter, di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat.
Peristiwa tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan terkait aspek keselamatan kendaraan listrik, khususnya saat melintasi perlintasan rel.
Kejadian ini tidak hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga memancing analisis dari kalangan akademisi dan praktisi otomotif.
Salah satu pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, turut memberikan penjelasan teknis mengenai kemungkinan penyebab insiden tersebut. Dilaporkan dan dikutip ANTARA.
Menurut Yannes, kendaraan listrik memiliki sistem yang sangat bergantung pada kestabilan suplai daya listrik, termasuk dari baterai bertegangan rendah atau aki 12 volt.
Komponen ini berperan penting dalam mengaktifkan, sistem awal kendaraan sebelum seluruh sistem utama bekerja.
Ia menjelaskan bahwa aki 12 volt bertugas menghidupkan berbagai perangkat penting seperti komputer kendaraan, relay, kontaktor, hingga sistem sensor dan modul kontrol.
Tanpa suplai daya yang stabil dari komponen ini, kendaraan dapat gagal beroperasi secara normal.
Dalam kondisi tertentu, jika tegangan aki tersebut turun di bawah ambang batas, maka proses booting kendaraan dapat terganggu.
Hal ini berpotensi menyebabkan sistem kendaraan, tidak dapat menyala atau bahkan mati mendadak saat sedang digunakan.
Selain faktor kelistrikan, Yannes juga menyoroti potensi dampak getaran yang terjadi saat kendaraan melintasi rel kereta.
Getaran yang berlangsung cukup lama dapat memengaruhi kestabilan berbagai komponen kendaraan, khususnya pada sistem sensor.
Ia menyebutkan bahwa, sistem Advanced Driver Assistance System (ADAS) pada kendaraan listrik cukup sensitif terhadap perubahan kondisi fisik.
Getaran ekstrem dapat mengendurkan, sambungan atau bahkan mengganggu kinerja sensor-sensor penting.
Jika sambungan atau komponen mengalami gangguan akibat getaran tersebut, maka sistem penggerak kendaraan bisa kehilangan efisiensi atau bahkan berhenti bekerja sepenuhnya.
Hal ini berpotensi membuat kendaraan tiba-tiba berhenti di lokasi yang berisiko tinggi.
Lebih lanjut, Yannes juga menyinggung kemungkinan aktifnya sistem keamanan otomatis pada kendaraan listrik.
Sistem ini dirancang untuk melindungi kendaraan, dari kondisi abnormal atau gangguan yang terdeteksi.
Dalam situasi tertentu, ketika sistem mendeteksi adanya anomali, fitur keamanan seperti immobilizer atau pengunci kemudi dapat aktif secara otomatis. Akibatnya, kendaraan bisa terkunci dan tidak dapat digerakkan.
Fitur keselamatan tersebut memang penting, untuk mencegah kerusakan lebih lanjut atau potensi bahaya lain.
Namun, dalam kondisi darurat seperti di perlintasan rel, aktivasi sistem ini justru bisa menimbulkan risiko tambahan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kendaraan listrik, meskipun canggih, tetap memiliki potensi kerentanan teknis yang perlu diantisipasi.
Pemahaman terhadap sistem kendaraan menjadi penting bagi pengguna. Selain itu, diperlukan juga perhatian terhadap kondisi infrastruktur jalan dan perlintasan rel yang dilalui kendaraan.
Getaran dan kontur jalan yang ekstrem, bisa menjadi faktor yang memperbesar risiko gangguan teknis.
Para ahli juga menekankan pentingnya, perawatan berkala untuk memastikan seluruh sistem kendaraan berfungsi dengan optimal.
Pemeriksaan terhadap baterai, sensor, dan sistem kontrol harus dilakukan secara rutin.
Ke depan, diharapkan adanya peningkatan standar keselamatan baik dari sisi kendaraan maupun lingkungan operasionalnya.
Sinergi antara produsen, pengguna, dan regulator menjadi kunci dalam mencegah kejadian serupa terulang kembali.


