Info Sehat, List Berita | Ketika perubahan pada wanita yang sedang hamil, akan mendapatkan beberapa catatan.
Selama kehamilan, seperti mudah lupa, kabut otak, disorientasi, hingga sulit fokus. Dilansir dari Sceinching pada Minggu, (15/3/2026).
Meski istilah ini telah lama dikenal di kalangan ibu hamil dan peneliti, mekanisme biologis di baliknya baru mulai dipahami lebih jelas dalam beberapa tahun terakhir.
Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa selama kehamilan, otak ibu memang mengalami perubahan struktural yang nyat.,
Terutama pada materi abu-abu (gray matter), sebagai bagian dari proses adaptasi menuju peran keibuan.
Namun, perubahan ini bukan berarti otak mengalami kerusakan permanen.
Penelitian longitudinal dari Spanyol, yang dipublikasikan di Nature Communications pada 2025.
Menemukan bahwa volume materi abu-abu otak, mengikuti pola “lintasan berbentuk U” sejak trimester kedua hingga enam bulan setelah persalinan.
Artinya, volume materi abu-abu menurun selama kehamilan, lalu meningkat kembali pada masa pascapersalinan.
Studi itu juga menyebut, lintasan tersebut terutama terkait faktor gestasional dan berkorelasi dengan fluktuasi estrogen sepanjang kehamilan.
Temuan serupa juga ditekankan oleh National Institute on Aging di Amerika Serikat, yang merangkum penelitian.
Bahwa total volume materi abu-abu dan ketebalan korteks, menurun selama kehamilan dan kemudian pulih sebagian setelah melahirkan.
Perubahan ini dilaporkan terjadi di sebagian besar, korteks serebral dan sejumlah jaringan otak berskala besar.
Dengan besaran yang jauh melampaui variasi normal, pada perempuan yang tidak hamil dalam rentang waktu serupa.
National Institute on Aging
Para ilmuwan menilai proses ini berkaitan, dengan meningkatnya neuroplastisitas. Yakni kemampuan otak untuk mengatur ulang dirinya sendiri.
Dalam konteks kehamilan, perubahan ini diyakini membantu otak beradaptasi terhadap kebutuhan pengasuhan.
Termasuk membangun kepekaan emosional, perhatian terhadap isyarat sosial, dan kesiapan psikologis untuk merawat bayi.
Tinjauan di Nature Neuroscience bahkan menyebut kehamilan, sebagai periode neuroplastisitas yang luar biasa.
Pada mamalia, didorong oleh perubahan hormonal yang adaptif.
Salah satu peneliti utama dalam topik ini, Dr. Susana Carmona, menggambarkan.
Proses tersebut seperti memangkas pohon, agar pertumbuhan baru bisa muncul.
Gambaran itu menekankan bahwa, perubahan struktur otak selama kehamilan bukan sekadar “kehilangan.”
Melainkan penataan ulang yang dapat mendukung, fungsi baru pada masa transisi menjadi ibu.
Kesimpulan utama studi 2025 juga menunjukkan, bahwa pemulihan volume materi abu-abu.
Setelah persalinan berkaitan dengan keterikatan ibu, terhadap bayi pada enam bulan postpartum.
Secara rata-rata, sejumlah laporan populer menyebut penurunan materi abu-abu selama kehamilan bisa mencapai sekitar 5 persen.
Namun, poin yang lebih penting dari penelitian ilmiah adalah bahwa perubahan itu tidak boleh dimaknai sebagai hilangnya fungsi otak secara permanen.
Yang diamati para peneliti adalah penataan ulang, volume pada banyak area otak,
Terutama yang berkaitan dengan kognisi sosial, empati, persepsi diri, dan pemrosesan hubungan interpersonal.
Area-area seperti ini sangat penting dalam membentuk hubungan antara ibu dan bayi.
Menariknya, ibu yang mengalami perubahan otak lebih besar dalam studi tersebut cenderung melaporkan ikatan emosional yang lebih kuat dengan bayinya.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa perubahan pada, otak maternal memiliki fungsi biologis dan evolusioner.
Yakni membantu ibu menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan bay,i dan lebih siap membangun kedekatan emosional setelah persalinan.
Perubahan otak selama kehamilan juga sangat berkaitan, dengan lonjakan hormon, terutama estrogen.
Dalam sejumlah penelitian, para ibu yang diteliti menunjukkan peningkatan kadar estrogen.
Ketika diyakini berperan penting, dalam memicu restrukturisasi otak selama masa kehamilan.
Karena itu, hormon dipandang memegang peran sentral dalam membantu orang tua baru.
Membangun ikatan dengan bayinya, dan menyesuaikan respons pengasuhan mereka setelah kelahiran.
Selain hormon, isyarat sensorik juga berperan dalam memperkuat kedekatan orang tua dan bayi.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa aroma khas bayi dapat, memicu sistem penghargaan di otak.
Dan berkontribusi pada proses ikatan sosial serta perilaku pengasuhan.
Penelitian tentang bau tubuh bayi menunjukkan bahwa, aroma bayi dipersepsi menyenangkan.
Oleh orang tua dan dapat berkaitan dengan mekanisme pengenalan, kedekatan, serta motivasi untuk merawat.
[
Fenomena serupa juga ditemukan pada mamalia lain.
Literatur neurosains modern menegaskan bahwa, kehamilan merupakan periode perubahan neuroanatomi.
Yang menonjol lintas spesies, termasuk pada hewan model seperti tikus.
Dalam penelitian hewan, perubahan hormonal dan neurologis selama kehamilan dinilai penting untuk membentuk perilaku keibuan dan kesiapan induk dalam merawat anaknya.
Ini memperkuat pandangan bahwa “otak ibu” adalah hasil adaptasi biologis yang berfungsi menjaga kelangsungan hidup keturunan.
Dalam sudut pandang evolusi, penyesuaian tersebut sangat masuk akal.
Bayi manusia lahir dalam kondisi, sangat bergantung pada pengasuhan.
Sehingga kedekatan emosional, kepekaan terhadap isyarat bayi, dan naluri protektif orang tua menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidup.
Karena itu, perubahan yang terjadi pada jaringan otak seperti default mode network, yang berkaitan dengan empati, altruisme, dan persepsi diri.
Kini makin dipahami sebagai bagian dari penyesuaian, alami tubuh untuk mendukung peran keibuan.
Dengan demikian, fenomena baby brain bukan sekadar mitos atau gangguan sementara tanpa penjelasan ilmiah.
Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa, kehamilan memicu penataan ulang struktur otak yang dinamis.
Dipengaruhi hormon, dan sebagian pulih setelah persalinan.
Bagi para ilmuwan, ini adalah bukti bahwa otak ibu tidak sekadar berubah, tetapi beradaptasi secara biologis dan emosional.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi tuntutan merawat kehidupan baru.


