DPRD Kritik Pergeseran APBD 2026 Jawa Barat

Published on

Bandung, List Berita | DPRD Jawa Barat, mengkritik pergeseran anggaran 2026 pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Menurut anggota legislatif pun juga turut mengkritik langkah tersebut, karena kurang dilibatkan setiap kali anggaran mengalami pergeseran.

Hal itu, kini disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat Ono Surono.

Usai rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Selasa (30/6/2026) sore.

Menurut dia, setiap kebijakan pergeseran anggaran semestinya, melibatkan DPRD Jawa Barat sebagai lembaga yang memiliki fungsi penganggaran atau budgeting.

Sehingga seluruh proses dapat berjalan secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan semangat kemitraan antara eksekutif dan legislatif.

“DPRD Jawa Barat mencatat bahwa telah terjadi beberapa kali pergeseran APBD tanpa penyampaian hasil pergeseran kepada DPRD Jawa Barat.

BACA JUGA  Wartawan Kritik Kejaksaan Negeri Rohul Dalam Pembukaan Coffee Morning

Ke depan, mekanisme tersebut diharapkan dapat diperbaiki melalui komunikasi yang lebih intensif antara Gubernur Jabar, TAPD, dan DPRD Jawa Barat,
“ucap Ono.

1. Tak Main-main Potensi Defisit APBD Jabar 2026 Mencapai Rp5,7 triliun

“DPRD Jawa Barat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pemerintahan daerah dan memiliki fungsi anggaran.

Sehingga, setiap kebijakan strategis yang berkaitan dengan APBD, kata Ono, perlu dikomunikasikan dengan baik agar tidak menimbulkan perbedaan pemahaman”.

<

Selain menyoroti mekanisme pergeseran anggaran, Ono pun memberikan catatan terhadap potensi defisit APBD Tahun Anggaran (TA) 2026 yang diperkirakan mencapai sekitar Rp5,7 triliun.

DPRD Jawa Barat menilai kondisi tersebut perlu disikapi, secara hati-hati dengan mengedepankan perencanaan fiskal yang matang.

Sejak pembahasan APBD 2026, DPRD Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jabar sebenarnya telah mengantisipasi adanya potensi koreksi fiskal berdasarkan hasil evaluasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Salah satu catatan yang menjadi perhatian adalah, adanya perbedaan perhitungan Dana Bagi Hasil (DBH) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jabar, serta masih adanya komponen belanja wajib yang perlu disesuaikan.

BACA JUGA  Waspada! Petir dan Angin Kencang Mengintai Jawa Barat Hari Ini

2. Penanganan Defisit dilakukan Berdasarkan Data yang Komprehensif

Ono menilai data proyeksi pendapatan perlu dianalisis secara lebih mendalam, termasuk terhadap penerimaan pajak kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak rokok, serta komponen pendapatan lainnya.

Ono bilang, analisis yang akurat diperlukan agar pemerintah daerah memiliki dasar yang kuat dalam menentukan kebijakan fiskal.

“DPRD Jawa Barat menginginkan seluruh keputusan, mengenai penanganan defisit didasarkan pada data yang komprehensif.

Dengan demikian dapat dipertimbangkan secara objektif apakah defisit akan ditutup melalui efisiensi belanja, pembiayaan, atau penyesuaian terhadap program-program pemerintah daerah sesuai kemampuan fiskal,” jelasnya.

3. Kondisi Ekonomi dimasyarakat riil kini harus jadi Perhatian

Lebih lanjut, Ono menegaskan, program-program prioritas Pemerintah Provinsi Jabar harus tetap menjadi perhatian utama agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu akibat penyesuaian anggaran.

DPRD Jawa Barat mengingatkan bahwa, penyusunan kebijakan fiskal perlu mempertimbangkan dinamika perekonomian yang sedang berkembang.

Meskipun, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tercatat sebesar 5,85 persen, DPRD Jawa Barat menilai indikator tersebut masih perlu dicermati secara lebih mendalam karena sebagian besar didorong oleh tingginya belanja pemerintah.

BACA JUGA  Anita Legislator Asal Kupang, Kecewa dengan Disdik NTT

Menurut Ono Surono, ekonomi riil masyarakat harus menjadi perhatian utama, mengingat masih terdapat tantangan berupa penurunan daya beli.

Meningkatnya PHK, kenaikan harga barang, hingga tekanan terhadap sektor industri yang berpotensi memengaruhi konsumsi masyarakat dan investasi di Jawa Barat.

Selain itu, DPRD Jawa Barat juga menyoroti optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Selama ini, kontribusi terbesar terhadap pendapatan daerah masih berasal dari Bank bjb dan PT Mig. (JUrnalis Windi Mayuda).

Latest articles

Kemenhan Ungkap Peristiwa Calon Manajer Koperasi Desa

Oleh: Windi Mayuda Jakarta, List Berita | Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Donny Ermawan Taufanto, mengungkapkan...

Bekasi Tingkatkan Pembangunan Jalan Menunjang Kebutuhan Masyarakat

Bekasi, List Berita | Kota Bekasi, menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan...

Sedang Asik Istirahat Wartawan di Aniaya Orang Tak Dikenal

Pesisir Selatan, List Berita | Sedang asik beristirahat dua wartawan dihampiri dua orang preman...

Kesombongan: Penyakit Hati yang Membinasakan Manusia

Sombong Penyakit Hati Manusia                     ...

More like this