Dampak Perang Meluas Ekonomi Inggris Picu Inflasi

Published on

London, List Berita | Konflik yang melibatkan Iran kini mulai, menunjukkan dampak serius terhadap perekonomian global.

Sejumlah petinggi bisnis dunia, termasuk dari sektor perbankan, memperingatkan bahwa ketidakpastian akibat perang ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi secara luas.

Kepala Eksekutif HSBC, Georges Elhedery, menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya kepada Bloomberg Television di Hong Kong, ia menegaskan bahwa konflik yang berkepanjangan mulai menggerus kepercayaan pasar.

“Kami tidak hanya khawatir dengan situasi yang terjadi, tetapi juga durasi konflik ini. Ketidakpastian mulai membebani kepercayaan ekonomi secara umum,” ujarnya.

Ia menambahkan, dampak perang tidak terbatas pada kawasan Timur Tengah saja, tetapi sudah merambah sektor global, termasuk harga minyak, komoditas, pupuk, hingga logam.

Harga minyak mentah Brent sempat melonjak menembus angka 100 dolar AS per barel, sebelum terkoreksi menjadi sekitar 98,5 dolar.

BACA JUGA  Putin-Erdogan Bahas Eskalasi Timur Tengah dan Konflik Ukraina

Fluktuasi ini terjadi di tengah kebijakan, Amerika Serikat yang memperketat tekanan terhadap Iran, termasuk pembatasan akses pelabuhan.

Sementara itu, upaya diplomasi masih berlangsung. Delegasi dari AS dan Iran dikabarkan akan kembali melanjutkan perundingan di Islamabad, Pakistan, setelah pembicaraan maraton sebelumnya belum mencapai kesepakatan.

Di pasar saham, indeks FTSE 100 di London mencatat kenaikan tipis. Namun, sejumlah perusahaan besar mulai mengisyaratkan kekhawatiran terhadap kondisi geopolitik.

<

Perusahaan perekrutan global PageGroup menyebut, situasi ini membuat prospek ekonomi semakin tidak pasti, terutama di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

HSBC sendiri memiliki eksposur signifikan di Timur Tengah, termasuk kepemilikan saham di Saudi Awwal Bank.

Meski demikian, Elhedery menyebut arus keluar modal dari kawasan tersebut masih relatif kecil sejauh ini.

Namun, tanda-tanda kehati-hatian mulai terlihat. Sejumlah investor kaya di Timur Tengah mulai, mempertimbangkan relokasi aset ke pusat keuangan seperti Singapura dan Hong Kong.

BACA JUGA  18 Anggota OPM di Tembak TNI Saat Melakukan Perlawanan

Ketua HSBC, Brendan Nelson, menegaskan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah sangat krusial bagi pemulihan ekonomi global.

Ia memperingatkan bahwa lonjakan harga energi dapat, memicu inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

“Semakin lama konflik berlangsung, dampak tidak langsung dari kenaikan biaya energi akan semakin besar,” katanya.

Dampak juga mulai dirasakan sektor industri. Perusahaan pakaian olahraga Castore melaporkan kenaikan biaya, produksi hingga 10-15 persen akibat naiknya harga bahan berbasis minyak seperti poliester.

CEO Castore, Tom Beahon, mengungkapkan bahwa volatilitas harga menjadi tantangan utama.

“Sulit merencanakan bisnis ketika harga bisa melonjak drastis, dalam sehari, lalu turun kembali keesokan harinya,” ujarnya.

Selain itu, gangguan distribusi juga menjadi hambatan. Jalur pengiriman di Selat Hormuz terganggu, sementara sejumlah maskapai mengurangi frekuensi penerbangan.

BACA JUGA  Hormuz Berbasis Yuan: Iran Goyang Hegemoni Dolar AS

Di sektor penerbangan, CEO Virgin Atlantic, Corneel Koster, menyebut harga bahan bakar jet kini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum konflik.

Di tengah situasi ini, Kanselir Inggris Rachel Reeves menyerukan koordinasi global dalam menghadapi krisis.

Ia menilai, konflik Iran harus menjadi momentum bagi dunia untuk memperbaiki cara menangani ketidakstabilan ekonomi.

“Ini harus menjadi titik balik dalam merespons krisis, global secara kolektif,” tegasnya.

Latest articles

Pariwisata Yogyakarta Jadi Sorotan Bamboo Spirit Nusantara, Destinasi Perlu Diperkuat

Penulis: Jurnalis Kairos-Kairozo Saidi Hartono. Yogyakarta, List Berita | Capaian sektor parawisata di Daerah Istimewa...

1000 Pawiyatan, SALAM NUSANTARA: Penghayatan Menuju Roso Orep Sejati

MALANG–PASURUAN, List Berita | Mengejawantahkan Salam Nusantara, dalam pertemuan tiga perjalanan penghayatan kebudayaan. "Yang...

Penadna “Pena Daya dan Data Nusantara”

Jawa Timur, List Berita | Ahli sejarah sekaligus tokoh budaya Guntur Bisowarno pencetus, kalimat...

Kembang Setaman Nusantara: Merajut Memori, Kesaksian Sejarah dan Peradaban

List Berita | Dari Kembang Kanthil, Kenanga hingga Melati. Sebuah Tafsir Simbolik tentang Pena...

More like this