Opini : Publik. Penulis : Saidi Hartono
Sleman, List Berita | Penurunan aktivitas wisata di kawasan Turi dan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sepanjang 2025 memunculkan kritik terhadap arah kebijakan, sektor pariwisata.
Sejumlah pihak menilai, langkah yang ada belum menyentuh persoalan utama, yakni melemahnya daya beli wisatawan.
Selama ini, upaya peningkatan sektor pariwisata dinilai masih berfokus pada jumlah kunjungan.
Padahal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ramainya wisatawan tidak otomatis berdampak pada peningkatan ekonomi pelaku usaha.
Pelaku UMKM di kawasan Turi dan Tempel mengaku tetap mengalami penurunan omzet, meskipun destinasi wisata tidak sepenuhnya sepi.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebijakan dan realitas di lapangan.
“Yang datang memang ada, tapi tidak belanja. Ini yang tidak tersentuh kebijakan,” ungkap salah satu pelaku usaha.
Pengamat ekonomi daerah menilai, strategi pariwisata seharusnya tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi juga mendorong kualitas wisatawan, terutama dalam hal pengeluaran.
Selain itu, kebijakan pembatasan kegiatan seperti study tour dari sejumlah daerah turut disebut berdampak signifikan.
Padahal, segmen rombongan pelajar selama ini menjadi tulang punggung, kunjungan di kawasan wisata lereng Merapi.
Di sisi lain, belum optimalnya dukungan terhadap UMKM, terutama di wilayah pelosok, juga menjadi sorotan.
Banyak pelaku usaha yang masih bergantung pada penjualan langsung, tanpa dukungan pemasaran digital yang memadai.
Kondisi ini diperparah dengan perubahan tren wisata, di mana pengunjung lebih memilih perjalanan singkat tanpa menginap dan cenderung menekan pengeluaran.
Akibatnya, sektor pariwisata di Sleman menghadapi paradoks: destinasi tetap ramai.
Namun tidak memberikan dampak signifikan, terhadap perputaran ekonomi masyarakat baik wilayah Kecamatan Turi, maupun Kecamatan Tempel.


