PASURUAN, List Berita | Dari lereng Bromo Tengger Semeru, sebuah gagasan tentang masa depan peradaban mulai menemukan bentuknya.
Bukan sekadar wacana tentang lingkungan, bukan pula hanya program pembangunan, melainkan sebuah upaya mempertemukan pemikiran, kesadaran, kebudayaan, dan tindakan nyata di tengah masyarakat.
Gagasan tersebut terangkum dalam semangat Hulu Hulunisasi–Hilirisasi, sebuah cara pandang yang menempatkan pembangunan tidak hanya berangkat dari kebijakan dan teori, tetapi juga dari kesadaran manusia terhadap alam, kebudayaan, serta tanggung jawabnya terhadap generasi mendatang.
Tulisan ini tidak lahir dari satu kepala, satu jiwa, ataupun satu tangan. Ia lahir dari sebuah pertemuan pemikiran dan pengalaman sejumlah pihak, yang melihat bahwa masa depan Bromo Tengger Semeru membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik.
Ada hulu pemikiran yang memberikan arah. Ada hulu kesadaran yang mengingatkan manusia tentang martabat dan tanggung jawabnya. Dan ada hilir tindakan yang menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kerja nyata di tengah masyarakat.
Dalam kerangka pemikiran itu, pandangan Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Guru Besar Universitas Airlangga, menjadi salah satu pijakan penting. Ia mengingatkan bahwa persoalan bumi pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan manusia dan kebudayaannya.
Bumi, dalam perspektif tersebut, tidak membutuhkan semakin banyak teori yang berhenti sebagai wacana. Bumi membutuhkan manusia berkebudayaan yang mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan dan tanggung jawab menjadi gerakan.
Pemikiran itu sekaligus menjadi diagnosis terhadap persoalan ekologis yang semakin kompleks. Kerusakan alam tidak cukup dijawab dengan program teknis, karena akar persoalannya juga berkaitan dengan cara manusia memandang alam dan menempatkan dirinya di dalam kehidupan.
Dari sinilah muncul kebutuhan untuk membangun kesadaran baru. Kesadaran bahwa manusia bukan penguasa tunggal atas alam, melainkan bagian dari sebuah ekosistem kehidupan yang saling berhubungan.
Hulu pemikiran tersebut kemudian bertemu dengan hulu kesadaran yang dibawa melalui sentuhan pemikiran Brigjen (Purn) Hutagaol. Perspektif ini membawa persoalan ekologis ke wilayah yang lebih dalam, yakni persoalan martabat manusia dan kualitas kesadaran jiwa keilahian.
Kerusakan alam dalam pandangan tersebut dapat dibaca sebagai salah satu cermin kualitas manusia. Ketika pikiran, ucapan, dan tindakan kehilangan keselarasan, hubungan manusia dengan alam pun berpotensi mengalami kerusakan.
Karena itu, penyelamatan lingkungan tidak cukup hanya dengan menanam pohon, mengelola sampah, atau membangun infrastruktur. Semua itu penting, tetapi membutuhkan fondasi kesadaran agar tindakan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.
Kesadaran ekologis harus tumbuh menjadi kebudayaan. Kebudayaan harus menjadi perilaku. Dan perilaku harus mampu melahirkan tindakan bersama yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan.
Di titik inilah gagasan tersebut menemukan hilir tindakan melalui jejak langkah Bamboo Spirit Nusantara, dengan Guntur Bisowarno sebagai perajut dan penghubung berbagai pemangku kepentingan.
Peran tersebut menjadi penting karena perubahan tidak mungkin dilakukan oleh satu institusi saja. Pemerintah, akademisi, masyarakat, pelaku budaya, komunitas, dunia usaha, dan generasi muda harus menemukan ruang kolaborasi yang memungkinkan gagasan besar diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Salah satu bentuk konkret yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut adalah Program Hilirisasi Lapangan JATIM MELAJU UNAIR di Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.
Desa Ngadirejo menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan gagasan dengan realitas. Di lapangan, persoalan ekologis, sosial, ekonomi, budaya, dan masa depan generasi muda tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan.
Hilirisasi kemudian tidak dimaknai sekadar sebagai proses ekonomi yang menghasilkan produk. Hilirisasi dipahami lebih luas sebagai proses membawa pengetahuan, kesadaran, teknologi, kebudayaan, dan kreativitas menjadi kekuatan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam konteks Bromo Tengger Semeru, pendekatan tersebut menjadi semakin penting. Kawasan ini bukan hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga menyimpan sejarah, tradisi, identitas, dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban masyarakatnya.
Karena itu, pembangunan harus mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akar kebudayaan. Modernisasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan tanah, alam, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.
Semangat inilah yang kemudian mempertemukan tiga kekuatan besar. Prof. Adib berpikir. Hutagaol menyadarkan. Guntur Bisowarno bertindak. Ketiganya tidak ditempatkan sebagai jalan yang terpisah, melainkan sebagai mata rantai yang saling menguatkan.
Pemikiran memberikan arah. Kesadaran memberikan kedalaman. Sementara tindakan memberikan bukti bahwa gagasan dapat benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Pertemuan tersebut kemudian dapat dibaca sebagai sebuah model kolaborasi yang disebut Kolaborasi Okta Heliks. Sebuah pendekatan yang mencoba mempertemukan berbagai unsur kehidupan agar pembangunan tidak berjalan secara sektoral dan terpisah-pisah.
Humaniora, kesadaran, ilmu pengetahuan, kebudayaan, lingkungan, masyarakat, teknologi, dan tindakan pembangunan ditempatkan dalam satu ruang kolaborasi yang saling berhubungan.
Tujuannya bukan semata-mata menghasilkan program, tetapi membangun ekosistem peradaban. Sebuah ekosistem yang memungkinkan masyarakat menjadi subjek perubahan, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan.
Dalam kerangka itulah generasi muda Bromo Tengger Semeru memiliki posisi strategis. Putra-putri Besuki bukan hanya pewaris tanah dan kebudayaan, tetapi juga calon pengemban tanggung jawab untuk menentukan apakah kekayaan alam dan budaya tersebut mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.
Masa depan mereka tidak cukup dijamin dengan pertumbuhan ekonomi. Mereka membutuhkan lingkungan yang sehat, pendidikan yang kuat, kebudayaan yang hidup, kesempatan berkarya, serta ruang untuk mengembangkan kreativitas dan martabatnya sebagai manusia.
Hulu Hulunisasi–Hilirisasi pada akhirnya menjadi ajakan untuk menghubungkan kembali apa yang sering terpisah: pemikiran dengan tindakan, ilmu dengan kebudayaan, pembangunan dengan lingkungan, serta kemajuan dengan kesadaran.
Dari hulu, gagasan bergerak menuju hilir untuk menjadi tindakan. Namun perjalanan tidak berhenti di hilir. Hasil tindakan harus kembali menjadi pengetahuan dan kesadaran baru di hulu.
Dari sinilah siklus peradaban dapat dibangun: berpikir, menyadari, bertindak, mengevaluasi, lalu kembali membangun pemikiran baru. Siklus tersebut menjadi fondasi agar pembangunan tidak kehilangan arah dan kebudayaan tidak kehilangan masa depan.
Bromo Tengger Semeru pada akhirnya bukan sekadar bentang alam. Ia adalah ruang kehidupan, ruang kebudayaan, dan ruang masa depan. Menjaganya berarti menjaga warisan sekaligus memastikan putra-putri Besuki memiliki alasan untuk tetap mencintai, merawat, dan membangun tanah kelahirannya.
Semoga gagasan ini menjadi jembatan dari hulu ke hilir, dan dari hilir kembali ke hulu. Sebuah jembatan yang mempertemukan ilmu, kesadaran, kebudayaan, masyarakat, dan tindakan nyata demi satu cita-cita: langgengnya peradaban Bromo Tengger Semeru dan masa depan putra-putri Besuki.
Editor: Serikat Praktisi Media Indonesia (SPMI) Dewan Pembina/Penasehat : Saidi Hartono , Ketua DPD SPMI Bogor Raya Eris Sunarto.


